Perkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) di organisasi, termasuk lembaga keuangan seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI), meng-encourage perusaaan untuk memanfaatkan AI dalam meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, analisis data dan informasi, serta pengambilan keputusan. Namun, pemanfaatan AI dapat menimbulkan risiko baru, terutama risiko yang berkaitan dengan keamanan data, etika penggunaan AI, transparansi proses AI membantu suatu output, dan akuntabilitas dari output AI. PT SMI sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan menghadapi urgensi tersebut karenas saat ini karyawan di PT SMI menggunakan AI dalam operasionalnya dan pada tahun 2024 PT SMI pernah mengalami kebocoran data. Selain itu, adanya kebijakan negative growth dari Kementerian Keuangan dan arahan pemerintah untuk memperkuat tata kelola dan ekosistem AI nasional. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menilai tingkat kesiapan dan kematangan PT SMI dalam mengadopsi AI secara etis, aman, dan bertanggung jawab.
Penelitian ini mengintegrasikan tiga kerangka teoretis: Technology–Organization–Environment (TOE) untuk mengukur kesiapan struktural organisasi, Technology Readiness Index (TRI) untuk menilai kesiapan psikologis karyawan, serta IBM AI Adoption Maturity Model untuk memetakan tahap kematangan implementasi AI di PT SMI. Metode penelitian menggunakan pendekatan mixed-method melalui survei kuantitatif kepada karyawan dengan masa kerja lebih dari lima tahun dan wawancara semi-terstruktur dengan manajemen serta perwakilan dari divisi tertentu. Data sekunder untuk penelitian ini didapatkan dari dokumen internal PT SMI, Rencana Jangka Pangjang Perusahaan (RJPP) 2024–2028, risalah rapat, serta regulasi pemerintah terkait implementasi AI seperti SE Kominfo No. 9/2023, Kode Etik AI OJK, dan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi.
Hasil analisis TRI menunjukkan bahwa karyawan PT SMI memiliki tingkat optimisme dan inovasi yang tinggi terhadap penggunaan AI, namun masih terdapat ketidaknyamanan (discomfort) terkait kompleksitas teknologi. Dari sisi TOE, faktor teknologi dan organisasi menunjukkan adanya potensi penerapan AI terutama untuk kebutuhan otomasi pelaporan, analisis risiko pembiayaan, dan efisiensi operasiona. Namun, persepsi karyawan dan kebutuhan untuk mengimplementasikan AI belum dilandasi dengan kebijakan dan tata kelola AI yang memadai. Tidak adanya kebijakan internal mengenai keamanan AI, standar penggunaan AI generatif, dan mekanisme monitoring menjadi temuan utama di PT SMI.
Berdasarkan pemetaan menggunakan IBM AI Adoption Maturity Model, PT SMI saat ini berada di fase awal yaitu Initial Experiments, ditandai dengan eksplorasi penggunaan AI yang terbatas dan belum adanya tata Kelola implementasi dan penggunaan AI. Kondisi ini menunjukkan bahwa PT SMI membutuhkan penguatan strategis untuk berpindah menuju fase Appropriate Use atau lebih jauh lagi Governance and Standardization, termasuk menyusun tata kelola AI, standar keamanan data dan membangun literasi dan kompetensi karyawan PT SMI terkait AI.
Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kesiapan dan tata kelola AI di PT SMI, yaitu membangun kerangka tata kelola AI yang sejalan dengan regulasi nasional, menetapkan standard operating procedures (SOP) penggunaan AI, mengembangkan kebijakan keamanan data untuk mencegah risiko kebocoran data, meningkatkan literasi dan pelatihan AI bagi karyawan serta menyusun roadmap implementasi AI yang sejalan dengan RJPP 2024–2028. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai integrasi TOE–TRI–IBM Maturity Model dalam menilai kesiapan AI pada institusi publik yang memiliki yang diatur secara ketat oleh regulasi pemerintah.
Perpustakaan Digital ITB