Angkutan batubara di Sumatera Selatan yang utama menggunakan trasnportasi
kereta api dengan gerbong terbuka. Gerbong terbuka KKBW 50 Ton menjadi aset
vital dengan populasi 3.310 unit (40% dari total armada PT KAI). Namun,
sepanjang tahun 2019–2023, tercatat 3.721 kasus kerusakan komponen dengan
akumulasi keterlambatan hingga 304.764 menit yang mengakibatkan kerugian bagi
PT KAI. Sehingga dibutuhkan penyusunan strategi perawatan baru yang lebih tepat
dengan memasukkan perhitungan risiko ke dalam analisis keandalan gerbong.
Dalam tahapannya penelitian ini dilakukan dengan memetakan keterkaitan
komponen menggunakan hirarki aset gerbong KKBW 50 ton, dengan
mengumpulkan dan menganalisa kegagalan komponen berdasarakan frekuensi dan
dampak kerusakannya. Data Time to Failures (TTF) diuji secara kuantitatif
menggunakan distribusi weibull dua parameter pada tingkat kepercayaan 95%.
Penanganan risiko kemudian dirumuskan menggunakan lembar kerja RCM3 yang
diselaraskan dengan standar ISO 55000 dan ISO 31000.
Dari hasil perhitungan distribusi weibull terhadap 23 komponen utama gerbong
KKBW 50 Ton, didapatkan 3 komponen dengan nilai keandalan (reliability) di
bawah 97% yang menjadi target minimal perusahaan. Ketiga komponen kritis
tersebut adalah wheelset (93,89%), bearing (90,91%), dan distributor valve
(96,21%). Dengan melakukan analisa dan perhitungan untuk mencapai target
reliability serta pengolahan worksheet RCM3 didapatkan perubahan jadwal pada
23 komponen yang menjadi parameter baru dalam perawatan gebrong KKBW 50
ton. Berdasarkan rekomendasi perawatan baru tersebut, keandalan mencapai target
97% dan mampu menghemat Rp 980.472.420,00 untuk satu rangkaian (60 gerbong)
dan menghasilkan total penghematan kumulatif (efisiensi 4.97%) sebesar Rp
54.089.395.170,00 total armada gerbong KKBW 50 ton.
Perpustakaan Digital ITB