Abstrak - David Evan Prawira
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Meningkatnya layanan cerdas yang bertumpu pada penginderaan visual membuat
trafik data pada jaringan nirkabel tumbuh jauh lebih cepat daripada ketersediaan
spektrum. Pada sistem konvensional, seluruh isi citra dikirim dan dipulihkan
sebagai bit tanpa memandang apakah isi tersebut diperlukan untuk mengambil
keputusan, sehingga sebagian besar sumber daya kanal terpakai untuk detail yang
tidak relevan terhadap tugas. Sistem semacam ini juga memiliki kelemahan yang
khas, yaitu mutu keluarannya jatuh tajam begitu rasio sinyal terhadap derau
melewati ambang rancangan, sebuah gejala yang dikenal sebagai efek tebing.
Persoalan bertambah ketika banyak perangkat mengamati wilayah yang sama
secara serentak, karena pengamatan tiap perangkat dapat tergerus kabut,
penghalang, atau sudut pandang yang terbatas, namun justru karena itu pengamatan
antar perangkat menjadi saling melengkapi. Komunikasi semantik berorientasi
tugas menawarkan jalan keluar dengan hanya mengirimkan representasi yang
cukup untuk menyelesaikan tugas di penerima, sehingga sumber daya kanal dapat
dihemat dan ketahanan terhadap penurunan kanal meningkat.
Tugas akhir ini merancang, mewujudkan, dan menguji sebuah sistem komunikasi
semantik kooperatif untuk tugas Visual Question Answering (VQA), yaitu
menjawab pertanyaan berbahasa alami mengenai isi sebuah adegan. Sistem meniru
situasi tiga pengamat yang melihat adegan yang sama dalam kondisi berbeda, yakni
satu tampilan bersih, satu tampilan berkabut, dan satu tampilan yang sebagian
terhalang. Fitur visual tiap pengamat diambil oleh Swin Transformer varian Swin-
Base yang dibekukan, dan keluarannya berupa peta fitur 196 token berdimensi 512
dipetakan oleh penyandi JSCC menjadi 25.088 simbol kompleks yang dayanya
dinormalkan. Pertanyaan diwakili oleh DistilBERT melalui vektor token [CLS]
berdimensi 768 dan disandikan menjadi 128 simbol pada jalur JSCC teks. Kanal
dinyatakan dengan model Y = HX + N untuk tiga kondisi, yakni AWGN, Rayleigh,
dan Rician dengan faktor K = 3, dan penerima melakukan ekualisasi zero-forcing
dengan asumsi kondisi kanal diketahui. Berbeda dari rancangan yang memakai
penggabung terlatih, sistem ini menyatukan ketiga peta fitur yang telah dipulihkan
melalui perataan (mean pooling) yang sederhana dan hemat komputasi, lalu
hasilnya dikondisikan oleh representasi pertanyaan pada empat blok residual FiLM
sebelum sebuah pengklasifikasi memilih satu dari 28 kemungkinan jawaban.
Pelatihan ditempuh dalam dua tahap pada dataset CLEVR, yaitu membentuk
kemampuan penalaran terlebih dahulu lalu melatih komponen JSCC pada kondisi
berkanal, dengan fungsi kerugian gabungan klasifikasi dan rekonstruksi. Sebagai
pembanding dipakai rantai konvensional JPEG dan Huffman dengan kode LDPC
laju sepertiga serta modulasi 8-QAM dan BPSK, yang dinilai memakai model
penalaran beku yang sama agar setara.
Pengujian memperlihatkan bahwa sistem semantik kooperatif menjaga akurasi
tugas tetap tinggi sepanjang rentang SNR -5 hingga 10 dB dan menurun secara
bertahap, bukan terjun mendadak, seiring memburuknya kanal. Pada kanal AWGN,
akurasi berada pada 0,908 di 10 dB dan masih 0,781 di -5 dB, dengan batas atas
tanpa kanal sebesar 0,928. Pada kanal Rician berfaktor K = 3, akurasi bergerak dari
0,899 di 10 dB ke 0,534 di -5 dB, menempati posisi antara kurva AWGN dan kurva
Rayleigh serta condong ke arah AWGN karena keberadaan lintasan langsung
menekan peluang pemudaran dalam. Pada kanal Rayleigh yang paling menantang,
akurasi turun dari 0,870 di 10 dB ke 0,401 di -5 dB. Sebagai perbandingan, sistem
konvensional memperlihatkan efek tebing yang tegas, dengan akurasi hanya sekitar
0,203 pada AWGN dan 0,193 pada Rayleigh di -5 dB. Dari sisi kehematan, sistem
semantik cukup mengirim 25.216 simbol per pengguna pada dimensi simbol 256,
atau sekitar 11 persen lebih sedikit daripada 28.364 simbol pada sistem
konvensional.
Kebaruan tugas akhir ini adalah penyatuan dua arah riset yang selama ini berjalan
sendiri-sendiri, yakni komunikasi semantik kooperatif antar-pengguna dan
komunikasi semantik berorientasi tugas untuk penalaran multimodal, ke dalam satu
sistem tunggal yang sadar kanal serta dilatih menyeluruh, dengan tulang punggung
visual berupa transformer berjendela hierarkis yang biaya perhitungannya tumbuh
linear terhadap jumlah token. Sumbangan penelitian ini ada tiga. Pertama, bukti
eksperimental bahwa komunikasi berorientasi tugas berbasis Swin Transformer
mampu menahan penurunan akurasi VQA secara landai pada kanal AWGN,
Rayleigh, dan Rician, berbeda tegas dari efek tebing sistem konvensional, dan hal
ini ditunjukkan melalui pembandingan setara dengan penerima yang sadar kondisi
kanal. Kedua, sebuah rancangan penyandian ringkas yang memangkas kebutuhan
simbol transmisi sekitar 11 persen per pengguna, sekaligus disertai catatan terbuka
bahwa pada tataran sistem terdapat konsekuensi berupa kebutuhan pita uplink tiga
kali lipat sebagai imbalan ketahanan. Ketiga, tersedianya acuan perancangan yang
memadukan pengekstrak transformer modern dengan pengodean sumber-kanal
gabungan pada skenario multi-pengguna kooperatif, yang dapat dijadikan titik tolak
bagi penelitian lanjutan.
Perpustakaan Digital ITB