Pertumbuhan layanan cerdas berbasis sensor menuntut pertukaran data visual dalam
volume besar dengan keandalan tinggi. Ketika banyak perangkat pengamat
mengirimkan data secara bersamaan ke server tepi, timbul persoalan kelangkaan
spektrum dan kepadatan trafik. Sistem komunikasi konvensional yang berorientasi
pada pemulihan bit secara akurat menjadi kurang efisien karena mentransmisikan
seluruh data terlepas dari relevansinya terhadap tugas yang ingin dicapai, dan
kinerjanya runtuh secara mendadak ketika kualitas kanal menurun di bawah
ambang tertentu. Di sisi lain, satu perangkat pengamat sering kali tidak memperoleh
pengamatan yang lengkap akibat kabut, oklusi, maupun keterbatasan sudut
pandang, sehingga informasi dari beberapa pengamat atas area yang sama
berpotensi saling melengkapi. Komunikasi semantik berorientasi tugas hadir
sebagai paradigma alternatif yang hanya mentransmisikan representasi yang
relevan terhadap tugas, sehingga berpotensi menekan kebutuhan sumber daya kanal
sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap gangguan.
Tugas akhir ini bertujuan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi
sistem komunikasi semantik kooperatif multi-pengguna untuk tugas Visual
Question Answering (VQA). Sistem dimodelkan atas tiga pengguna yang
mengamati satu scene yang sama dengan degradasi berbeda, yaitu tampilan bersih,
tampilan terdampak kabut, dan tampilan yang mengalami oklusi. Pada tiap
pengguna, fitur visual diekstraksi menggunakan ResNet-101 pada lapisan conv4
berdimensi 1024×14×14 yang dibekukan kecuali layer3 yang di-fine-tune,
kemudian dipetakan langsung menjadi 12.544 simbol kompleks ternormalisasi
daya melalui encoder joint source–channel coding (JSCC). Pertanyaan berbahasa
alami direpresentasikan sebagai embedding 200 dimensi dan dikodekan menjadi
736 simbol kompleks melalui jalur JSCC teks. Kanal nirkabel dimodelkan sebagai
Y = HX + N dalam tiga jenis, yaitu AWGN, Rayleigh fading, dan Rician fading
dengan faktor K = 3, disertai ekualisasi zero-forcing di penerima. Pada sisi
penerima, cooperative aggregator menggabungkan ketiga peta fitur hasil
rekonstruksi melalui pembobotan korelasi berpasangan untuk menekan artefak
degradasi dan derau kanal, pembobotan keunikan untuk mempertahankan informasi
komplementer yang hanya dimiliki satu pengguna, serta fusi konvolusi berbobot
yang diinisialisasi ke rerata agar pelatihan bermula dari operasi perataan yang
stabil. Hasil fusi kemudian dimodulasi oleh representasi pertanyaan melalui empat
blok residual FiLM yang dikendalikan GRU, dan sebuah klasifier menghasilkan
iii
jawaban atas 28 kelas. Sistem dilatih secara end-to-end pada dataset CLEVR
dengan sekitar 700 ribu pertanyaan menggunakan kerugian gabungan klasifikasi
dan rekonstruksi disertai pemanasan JSCC. Sebagai pembanding digunakan sistem
konvensional berbasis JPEG dan Huffman dengan LDPC rate-1/3 serta modulasi 8-
QAM dan BPSK, yang dinilai menggunakan model penalaran beku yang sama agar
perbandingan bersifat setara.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa sistem semantik kooperatif mempertahankan
akurasi tugas yang tinggi pada seluruh rentang SNR ?5 hingga 10 dB. Pada kanal
AWGN, akurasi bersifat datar pada kisaran 0,935 dan melampaui referensi bersih
tampilan tunggal sebesar 0,918. Pada kanal Rayleigh, akurasi terdegradasi secara
landai dari 0,831 pada ?5 dB menjadi 0,927 pada 10 dB. Pada kanal Rician dengan
faktor K = 3, akurasi terdegradasi secara landai dari 0,891 pada ?5 dB menjadi
0,934 pada 10 dB, yaitu berada di antara kurva AWGN dan kurva Rayleigh serta
cenderung mendekati kurva AWGN karena komponen line-of-sight menekan
frekuensi terjadinya deep fade. Sebaliknya, sistem konvensional mengalami efek
tebing dengan akurasi hanya 0,203 pada kanal AWGN dan 0,193 pada kanal
Rayleigh di ?5 dB, dan pada kanal Rayleigh tidak pernah pulih dalam rentang yang
diuji, yaitu hanya mencapai 0,493 di 10 dB, sedangkan pada kanal Rician hanya
mencapai 0,197 pada ?5 dB dan 0,710 pada 10 dB. Pengujian fusi multi-pengguna
pada sistem konvensional menunjukkan bahwa penggabungan tiga tampilan tidak
memberikan keuntungan keberagaman karena ketiganya mengalami kegagalan
pengodean yang sama, sedangkan aggregator terlatih pada sistem semantik berhasil
memanfaatkan komplementaritas ketiga tampilan tersebut. Dari sisi efisiensi
transmisi, sistem semantik mentransmisikan 53% lebih sedikit simbol per
pengguna, yaitu 13.280 dibandingkan 28.364 simbol.
Kebaruan tugas akhir ini terletak pada penggabungan dua arah penelitian yang
selama ini terpisah, yaitu komunikasi semantik kooperatif antar-pengguna dan
komunikasi semantik berorientasi tugas untuk penalaran multimodal, ke dalam satu
sistem yang sadar kanal dan dilatih secara menyeluruh. Orisinalitasnya terletak
pada perancangan cooperative aggregator yang memadukan pembobotan korelasi,
pembobotan keunikan, dan fusi konvolusi berinisialisasi rerata, yang terbukti
mampu memanfaatkan komplementaritas antar-pengguna pada kondisi kanal yang
buruk. Sumbangan hasil penelitian ini terhadap khazanah ilmu pengetahuan
mencakup tiga hal. Pertama, bukti empiris bahwa fusi semantik terlatih
memperoleh keuntungan keberagaman dari sudut pandang yang saling melengkapi,
sementara fusi pada sistem pengodean terpisah tidak memperolehnya karena
seluruh sudut pandang mengalami kegagalan pengodean yang sama. Kedua,
karakterisasi perilaku degradasi landai sistem semantik dibandingkan efek tebing
sistem konvensional pada kanal AWGN, Rayleigh, dan Rician melalui
pembandingan yang setara menggunakan penerima sadar kondisi kanal. Ketiga,
rancangan pengodean ringkas yang menurunkan kebutuhan simbol transmisi
sebesar 53% per pengguna, disertai pencatatan terbuka atas konsekuensinya berupa
kebutuhan bandwidth uplink tiga kali lipat pada tataran sistem sebagai imbalan atas
peningkatan akurasi dan ketahanan.
Perpustakaan Digital ITB