Klasifikasi deret waktu pada data operasional berskala besar menghadapi tantangan
berupa pola temporal yang tidak konsisten antar instance, distribusi kelas yang
sangat timpang, dominasi nilai nol (sparsity tinggi) yang dapat mendistorsi sinyal
pembelajaran, serta adanya noise pada data. Pendekatan berbasis representasi selfsupervised
seperti Series2Vec telah menunjukkan performa unggul pada dataset
benchmark, namun penerapannya pada data operasional dengan karakteristik
tersebut belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan menghasilkan model
klasifikasi data deret waktu berbasis representasi Series2Vec dengan modifikasi
fungsi kemiripan dan arsitektur.
Evaluasi sistematis dilakukan dalam ruang desain 6×4 yang mencakup enam fungsi
kemiripan temporal (SoftDTW, WDTW, ADTW, EDR, MSM, TWED) dan empat
fungsi kemiripan frekuensi (Euclidean, Manhattan, Cosine, FC_H), pada dua
konfigurasi window historis yaitu 12 bulan dan 24 bulan. Selain itu, dilakukan tiga
eksperimen modifikasi arsitektur, yaitu penghapusan spatial encoder, penggantian
DisjointCNN dengan encoder 4 block, dan frozen fine-tuning. Dataset terdiri dari
22.676 pelanggan PLN pascabayar dengan rasio ketidakseimbangan kelas
86,7%:13,3% dan tingkat sparsity sekitar 86,5%. Setiap konfigurasi dievaluasi
melalui dua protokol yang saling melengkapi, yaitu linear probing untuk mengukur
kualitas intrinsik representasi dan fine-tuning untuk mengukur potensi adaptasi
supervised, dengan metrik utama Macro F1-score.
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pemilihan fungsi kemiripan berpengaruh
terhadap kualitas representasi yang dihasilkan Series2Vec. Pada protokol linear
probing, konfigurasi terbaik adalah MSM+Cosine dengan Val Macro F1 sebesar
0,8947 pada window 12 bulan dan EDR+FC_H sebesar 0,8921 pada window 24
bulan, melampaui konfigurasi default SoftDTW+Euclidean masing-masing sebesar
0,0106 dan 0,0043. Setelah fine-tuning, WDTW+Cosine mencapai Val Macro F1
tertinggi sebesar 0,9084 pada window 12 bulan dan ADTW+FC_H sebesar 0,9084
pada window 24 bulan, melampaui seluruh baseline termasuk LSTM (0,9017 dan
0,9002) dan TS2Vec (0,9021 dan 0,8937). Pada eksperimen modifikasi arsitektur,
penggantian DisjointCNN dengan encoder 4 block menghasilkan performa yang
sebanding dengan selisih kurang dari 0,004 pada kedua window, sementara frozen
fine-tuning menunjukkan penurunan performa yang konsisten.
Kontribusi keilmuan penelitian ini adalah evaluasi sistematis ruang desain 6×4
fungsi kemiripan serta eksperimen modifikasi arsitektur encoder Series2Vec pada
data operasional dengan karakteristik sparsity tinggi, noise, ketidaksejajaran
temporal, dan ketidakseimbangan kelas yang ekstrem. Penelitian ini menunjukkan
bahwa pemilihan fungsi kemiripan alternatif dapat meningkatkan performa
klasifikasi pada data deret waktu operasional. Pada eksperimen modifikasi
arsitektur, penggantian DisjointCNN dengan arsitektur encoder 4 block
menghasilkan performa yang sebanding, sementara frozen fine-tuning yang
membekukan bobot DisjointCNN dan hanya melatih classification head
menunjukkan penurunan performa yang konsisten pada kedua window,
mengindikasikan bahwa pelatihan ulang DisjointCNN secara end-to-end selama
fase fine-tuning berperan penting dalam meningkatkan performa klasifikasi.
Perpustakaan Digital ITB