digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bencana alam merupakan salah satu faktor eksternal yang paling berdampak dalam keberlangsungan suatu sistem kesehatan, khususnya pada konteks pelayanan farmasi dan distribusi obat-obatan. Gempa bumi, sebagai salah satu bencana dengan karakteristik yang sulit diprediksi, kerap terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan dini, menimbulkan kerusakan luas terhadap infrastruktur transportasi, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan medis dalam waktu singkat. Kondisi ini menciptakan tantangan karena keterbatasan akses distribusi logistik farmasi akibat kerusakan jaringan jalan dan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan darurat pada masyarakat terdampak. Di Indonesia, negara dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, membutuhkan suatu sistem logistik farmasi yang terstruktur, adaptif, dan efisien pascagempa. Penelitian ini dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan tiga tujuan utama. Pertama, menganalisis dan memetakan struktur serta parameter permasalahan logistik farmasi dalam kebencanaan gempa bumi sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Kedua, mengembangkan model alokasi logistik farmasi dalam Earthquake Emergency Health Kit (EEHK) yang disesuaikan dengan kebutuhan populasi lokal. Ketiga, mengembangkan model distribusi logistik farmasi berbasis Vehicle Routing Problem (VRP) heterogen yang sensitif terhadap kondisi infrastruktur pascagempa, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya distribusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan terpadu (integrated mixed-methods) yang menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif. Pada tahap pertama, metode Delphi diterapkan untuk mendapatkan konsensus para pakar mengenai parameter inti kesiapsiagaan farmasi dalam bencana. Tujuh pakar dengan latar belakang farmasi, logistik, dan manajemen bencana terlibat dalam tiga putaran survei Delphi. Tahap kedua difokuskan pada perancangan EEHK dengan pendekatan mixed methods. Aspek criticality, availability, serta affordability obat dipertimbangkan dalam analisis. Tahap ketiga adalah pengembangan model distribusi menggunakan formulasi VRP heterogen yang sensitif terhadap kondisi infrastruktur. Model ini menggabungkan penugasan pergantian kendaraan (peralihan moda transportasi) berbasis waktu, yakni pemanfaatan truk, drone dan motor pada 72 jam pertama pascagempa, kemudian beralih ke moda truk setelah akses jalan utama mulai pulih. Model distribusi logistik ini juga memperhitungkan waktu operasional dengan menetapkan batas operasional harian maksimum sebesar 480 menit, dengan ii pelampauan terhadap batas tersebut dikenakan penalti lembur sebagai konsekuensi dalam evaluasi kinerja operasional. Algoritma yang digunakan berbasis pipeline heuristik dengan kombinasi metode savings, greedy feasibility, dan local search. Uji coba dilakukan dengan studi kasus gempa bumi Cianjur dengan distribusi pada 47 Puskesmas di wilayah terdampak, sehingga dapat menggambarkan situasi nyata lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pertama, proses penentuan parameter menghasilkan nilai Interquartile Range (IQR) ? 1 pada setiap putaran, yang mengindikasikan konsensus kuat di antara para pakar. Dari proses tersebut diperoleh 30 parameter yang merepresentasikan struktur permasalahan logistik farmasi dalam kebencanaan, yang terstruktur dalam hierarki perencanaan strategis (8 parameter), taktis (9 parameter), dan operasional (13 parameter). Hierarki tersebut mencerminkan keterkaitan fungsi kebijakan, perencanaan, dan implementasi dalam sistem logistik farmasi kebencanaan. Pada tahap kedua, model alokasi dalam Earthquake Emergency Health Kit (EEHK) menghasilkan 171 item perbekalan medis dan kesehatan, yang mencakup obat konvensional serta penambahan komponen obat bahan alam (OBA) sesuai konteks sosial-budaya lokal. Pada tahap ketiga, model distribusi logistik farmasi yang dikembangkan mampu meningkatkan efisiensi rute dan menurunkan biaya distribusi secara signifikan, dengan penurunan sebesar 5,89% menggunakan pendekatan MILP dan hingga 8,89% melalui pendekatan heuristik dua fase. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa durasi kritis tanggap darurat selama 4 hari memberikan kinerja distribusi yang paling efisien. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang manajemen logistik farmasi kebencanaan. Integrasi metode Delphi memungkinkan pemetaan parameter kesiapsiagaan yang komprehensif dengan konsensus pakar, sementara kombinasi klasifikasi ABC-VED menghasilkan rancangan EEHK yang tidak hanya berbasis kebutuhan medis standar, tetapi juga memperhitungkan keterbatasan sumber daya dalam penanganan kebencanaan. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi melalui pengembangan model matematis baru berupa formulasi Vehicle Routing Problem (VRP) heterogen berbasis ketersediaan infrastruktur (infrastructuresensitive VRP), yang mengintegrasikan mekanisme peralihan moda transportasi berbasis waktu (time-dependent mode switching) serta fungsi penalti lembur dalam kerangka optimasi biaya distribusi. Implikasi praktis penelitian ini adalah peningkatan efisiensi biaya, keterjangkauan distribusi, serta kecepatan respons dalam memberikan layanan farmasi pada masyarakat terdampak bencana. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi pada pengembangan keilmuan di bidang logistik kemanusiaan, tetapi juga memiliki implikasi praktis sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan farmasi di Indonesia.