Bencana alam merupakan salah satu faktor eksternal yang paling berdampak dalam
keberlangsungan suatu sistem kesehatan, khususnya pada konteks pelayanan
farmasi dan distribusi obat-obatan. Gempa bumi, sebagai salah satu bencana dengan
karakteristik yang sulit diprediksi, kerap terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan
dini, menimbulkan kerusakan luas terhadap infrastruktur transportasi, serta
menimbulkan lonjakan kebutuhan medis dalam waktu singkat. Kondisi ini
menciptakan tantangan karena keterbatasan akses distribusi logistik farmasi akibat
kerusakan jaringan jalan dan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan darurat
pada masyarakat terdampak. Di Indonesia, negara dengan tingkat kerawanan
bencana yang tinggi, membutuhkan suatu sistem logistik farmasi yang terstruktur,
adaptif, dan efisien pascagempa.
Penelitian ini dirancang untuk menjawab tantangan tersebut dengan tiga tujuan
utama. Pertama, menganalisis dan memetakan struktur serta parameter
permasalahan logistik farmasi dalam kebencanaan gempa bumi sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan. Kedua, mengembangkan model alokasi logistik farmasi
dalam Earthquake Emergency Health Kit (EEHK) yang disesuaikan dengan
kebutuhan populasi lokal. Ketiga, mengembangkan model distribusi logistik
farmasi berbasis Vehicle Routing Problem (VRP) heterogen yang sensitif terhadap
kondisi infrastruktur pascagempa, dengan mempertimbangkan efisiensi biaya
distribusi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan terpadu (integrated mixed-methods) yang
menggabungkan analisis kualitatif dan kuantitatif. Pada tahap pertama, metode
Delphi diterapkan untuk mendapatkan konsensus para pakar mengenai parameter
inti kesiapsiagaan farmasi dalam bencana. Tujuh pakar dengan latar belakang
farmasi, logistik, dan manajemen bencana terlibat dalam tiga putaran survei Delphi.
Tahap kedua difokuskan pada perancangan EEHK dengan pendekatan mixed
methods. Aspek criticality, availability, serta affordability obat dipertimbangkan
dalam analisis. Tahap ketiga adalah pengembangan model distribusi menggunakan
formulasi VRP heterogen yang sensitif terhadap kondisi infrastruktur. Model ini
menggabungkan penugasan pergantian kendaraan (peralihan moda transportasi)
berbasis waktu, yakni pemanfaatan truk, drone dan motor pada 72 jam pertama
pascagempa, kemudian beralih ke moda truk setelah akses jalan utama mulai pulih.
Model distribusi logistik ini juga memperhitungkan waktu operasional dengan
menetapkan batas operasional harian maksimum sebesar 480 menit, dengan
ii
pelampauan terhadap batas tersebut dikenakan penalti lembur sebagai konsekuensi
dalam evaluasi kinerja operasional. Algoritma yang digunakan berbasis pipeline
heuristik dengan kombinasi metode savings, greedy feasibility, dan local search.
Uji coba dilakukan dengan studi kasus gempa bumi Cianjur dengan distribusi pada
47 Puskesmas di wilayah terdampak, sehingga dapat menggambarkan situasi nyata
lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap pertama, proses penentuan
parameter menghasilkan nilai Interquartile Range (IQR) ? 1 pada setiap putaran,
yang mengindikasikan konsensus kuat di antara para pakar. Dari proses tersebut
diperoleh 30 parameter yang merepresentasikan struktur permasalahan logistik
farmasi dalam kebencanaan, yang terstruktur dalam hierarki perencanaan strategis
(8 parameter), taktis (9 parameter), dan operasional (13 parameter). Hierarki
tersebut mencerminkan keterkaitan fungsi kebijakan, perencanaan, dan
implementasi dalam sistem logistik farmasi kebencanaan. Pada tahap kedua, model
alokasi dalam Earthquake Emergency Health Kit (EEHK) menghasilkan 171 item
perbekalan medis dan kesehatan, yang mencakup obat konvensional serta
penambahan komponen obat bahan alam (OBA) sesuai konteks sosial-budaya
lokal. Pada tahap ketiga, model distribusi logistik farmasi yang dikembangkan
mampu meningkatkan efisiensi rute dan menurunkan biaya distribusi secara
signifikan, dengan penurunan sebesar 5,89% menggunakan pendekatan MILP dan
hingga 8,89% melalui pendekatan heuristik dua fase. Analisis sensitivitas
menunjukkan bahwa durasi kritis tanggap darurat selama 4 hari memberikan kinerja
distribusi yang paling efisien.
Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam bidang manajemen logistik
farmasi kebencanaan. Integrasi metode Delphi memungkinkan pemetaan parameter
kesiapsiagaan yang komprehensif dengan konsensus pakar, sementara kombinasi
klasifikasi ABC-VED menghasilkan rancangan EEHK yang tidak hanya berbasis
kebutuhan medis standar, tetapi juga memperhitungkan keterbatasan sumber daya
dalam penanganan kebencanaan. Secara teoritis, penelitian ini berkontribusi
melalui pengembangan model matematis baru berupa formulasi Vehicle Routing
Problem (VRP) heterogen berbasis ketersediaan infrastruktur (infrastructuresensitive VRP), yang mengintegrasikan mekanisme peralihan moda transportasi
berbasis waktu (time-dependent mode switching) serta fungsi penalti lembur dalam
kerangka optimasi biaya distribusi.
Implikasi praktis penelitian ini adalah peningkatan efisiensi biaya, keterjangkauan
distribusi, serta kecepatan respons dalam memberikan layanan farmasi pada
masyarakat terdampak bencana. Temuan ini tidak hanya memberikan kontribusi
pada pengembangan keilmuan di bidang logistik kemanusiaan, tetapi juga memiliki
implikasi praktis sebagai dasar pengambilan kebijakan dalam memperkuat sistem
kesiapsiagaan farmasi di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB