digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Syabar Iqramullah
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Tingginya tingkat keterlambatan penyalaan pasang baru di wilayah kerja PLN kerap disebabkan oleh ketidakefisienan dalam pengelolaan distribusi material, khususnya kWh meter. Penelitian ini mengusulkan pengembangan model distribusi material dua tingkat antara pemasok, UP3, dan ULP dengan mempertimbangkan total biaya logistik, yang meliputi biaya transportasi, biaya penyimpanan, dan potensi penundaan pendapatan akibat keterlambatan layanan. Tujuan utama dari penelitian ini adalah menentukan frekuensi pengiriman optimal pada setiap jalur distribusi agar diperoleh total biaya logistik yang minimal. Model dirumuskan dalam Mixed Biner Integer Quadratik Programming (MBIQP). Evaluasi dilakukan melalui studi kasus pada sistem distribusi aktual PLN UID Suluttenggo untuk menguji keefektifan model dalam konteks operasional nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu menghasilkan skema pengiriman yang lebih efisien serta mendukung pengambilan keputusan dalam perencanaan logistik pasang baru. Pendekatan ini juga berpotensi diterapkan secara luas dalam pengelolaan distribusi material di sektor kelistrikan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa implementasi model optimasi memberikan perbaikan kinerja yang signifikan dibandingkan dengan kondisi baseline. Secara khusus, penerapan model optimasi distribusi dua-echelon berhasil menurunkan total biaya logistik dari Rp255.509.267 menjadi Rp166.354.174, yang merepresentasikan tingkat efisiensi biaya sebesar kurang lebih 35% terhadap total biaya distribusi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pengelolaan frekuensi pengiriman dan keputusan alokasi distribusi yang dirancang secara terintegrasi mampu meningkatkan efisiensi operasional dalam sistem distribusi dua-echelon serta mendukung pengambilan keputusan logistik yang lebih sistematis di lingkungan PLN.