Industri ayam broiler memiliki peranan penting dalam penyediaan protein hewani
dan perekonomian Indonesia. Namun, industri ini menghadapi persoalan berulang
berupa rendahnya harga live bird pada sejumlah periode, terutama ketika harga
berada di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak. Kondisi tersebut menekan
margin peternak mandiri dan mengancam keberlanjutan usaha mereka. Berbagai
kebijakan telah diterapkan untuk menahan penurunan harga live bird, antara lain
penetapan harga acuan, pengaturan pasokan final stock day-old chick (DOC FS),
pemotongan telur tetas, afkir dini parent stock (PS), serta penguatan hilirisasi
melalui rumah potong ayam (RPA) dan rantai dingin. Efektivitas pengendalian
tingkat harga masih menghadapi kendala karena pasokan terbentuk melalui
keputusan produksi pada berbagai tingkat, akumulasi persediaan, serta waktu tunda
biologis, operasional, dan informasi.
Rantai pasok ayam broiler di Indonesia mencakup pembibitan, penyediaan pakan,
hatchery, budi daya broiler, pasar live bird, RPA, distribusi daging ayam, pengecer,
dan konsumen akhir. Pasokan live bird berasal dari peternak mandiri, peternak
kemitraan, dan peternakan perusahaan. Pada sisi hulu, struktur pembibitan terdiri
atas grandparent stock (GPS), PS, dan final stock (FS). Produksi DOC PS dan DOC
FS dilakukan di dalam negeri, sedangkan penyediaan GPS masih bergantung pada
impor DOC GPS. Keputusan impor DOC GPS memengaruhi kapasitas pembibitan
PS dan produksi DOC FS, yang kemudian memengaruhi keputusan chick-in,
pasokan live bird, penyerapan oleh RPA, persediaan daging ayam, dan harga pasar.
Hubungan tersebut berlangsung pada horizon waktu yang berbeda dan membentuk
mekanisme umpan balik dari hilir hingga hulu.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan model dinamika sistem rantai pasok ayam
broiler nasional untuk menjelaskan mekanisme struktural yang menyebabkan
rendahnya tingkat harga live bird dan posisinya di bawah HPP pada sejumlah
periode, serta mengevaluasi skenario kebijakan pengendalian tingkat harga live
bird. Pengembangan model dilakukan melalui pemetaan rantai pasok, penyusunan
model konseptual, pengembangan causal loop diagram, formulasi stock and flow
diagram, penyusunan persamaan, pengujian model, simulasi baseline, dan evaluasi
skenario kebijakan.
Model mencakup subsistem permintaan dan pasar daging ayam, rumah potong
ayam (RPA), pasar live bird, budi daya broiler integrator dan non-integrator, pasar
DOC FS, hatchery, pembibitan PS dan GPS, serta penentuan impor DOC GPS.
Model diuji melalui pengujian struktur, pemeriksaan konsistensi dimensi, pengujian
reproduksi perilaku, dan pertimbangan pakar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
model mampu merepresentasikan kecenderungan agregat sistem, meskipun tidak
dimaksudkan untuk memprediksi fluktuasi harga bulanan secara titik demi titik.
Hasil simulasi baseline menunjukkan bahwa rendahnya tingkat harga live bird
terbentuk dari ketidaksesuaian waktu dan kuantitas antara realisasi DOC FS,
pasokan live bird, kebutuhan hilir, dan kemampuan penyerapan pasar. Kelebihan
realisasi DOC FS yang terserap sebagai chick-in meningkatkan jumlah broiler
dalam pemeliharaan dan menjadi tambahan pasokan live bird setelah melewati
masa pemeliharaan. Apabila tambahan pasokan tidak terserap secara memadai oleh
RPA dan saluran pemotongan lainnya, persediaan live bird meningkat dan
memberikan tekanan penurunan terhadap harga. Pada saat yang sama, peningkatan
biaya produksi memperlebar kesenjangan antara harga live bird dan HPP. Interaksi
kedua mekanisme tersebut menyebabkan margin peternak mandiri berada pada nilai
negatif dalam sejumlah periode.
Hasil simulasi kebijakan menunjukkan bahwa hatchery setting adjustment pada
Skenario 1 mampu menahan pertumbuhan realisasi DOC FS dan mengurangi
akumulasi persediaan DOC FS setelah potensi penetasan melampaui kebutuhan.
Namun, pengaruhnya terhadap realisasi chick-in nonintegrator, persediaan live bird,
harga live bird, dan margin peternak relatif terbatas sehingga kebijakan ini belum
memadai sebagai instrumen tunggal. Skenario demand-driven GPS DOC import
correction mampu mengubah kapasitas pembibitan dan mengurangi persediaan live
bird dibandingkan dengan kondisi baseline. Namun, penerapan kebijakan pada
kekuatan penuh menghasilkan fluktuasi kapasitas pembibitan, perubahan besar
pada potensi penetasan DOC FS, serta kontraksi chick-in akibat waktu tunda
administratif dan biologis. Perbaikan harga dan margin yang dihasilkan tetap
terbatas dan margin peternak masih bernilai negatif. Skenario kombinasi yang
menerapkan kedua kebijakan secara penuh menghasilkan pengurangan persediaan
live bird paling besar, tetapi juga menimbulkan kontraksi chick-in yang lebih awal
dan dalam. Peningkatan harga yang terjadi relatif kecil dan sementara sehingga
belum mampu memperbaiki margin peternak secara berkelanjutan. Tidak satu pun
skenario mampu secara bersamaan mengendalikan persediaan, meningkatkan harga
secara berkelanjutan, dan memulihkan margin peternak. Temuan ini menunjukkan
bahwa kebijakan pengendalian pasokan hulu dapat mengurangi persediaan, tetapi
belum cukup untuk memulihkan harga dan margin peternak karena hasilnya juga
dipengaruhi oleh kapasitas penyerapan hilir dan tekanan biaya produksi.
Berbeda dari penelitian terdahulu yang umumnya membahas sebagian segmen
rantai pasok atau memperlakukan kapasitas pembibitan sebagai faktor eksogen,
penelitian ini menempatkan mekanisme pengendalian pembibitan sebagai bagian
dari struktur internal model melalui struktur pengendalian ganda (dual control
structure). Struktur tersebut mengintegrasikan penyesuaian kapasitas jangka
panjang melalui keputusan impor DOC GPS berbasis kebutuhan sistem dan
pengendalian operasional jangka pendek melalui hatchery setting adjustment.
Penelitian ini juga memformulasikan keterkaitan pasar DOC FS, pasar live bird,
dan pasar daging ayam sebagai mekanisme transmisi dinamis lintas pasar melalui
keputusan pelaku usaha, aliran pasokan, akumulasi persediaan, umpan balik harga
dan margin, serta waktu tunda. Model yang dikembangkan menyediakan kerangka
analitis untuk memahami pengendalian tingkat harga live bird sebagai persoalan
koordinasi rantai pasok pada berbagai horizon waktu.
Perpustakaan Digital ITB