digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri ayam broiler memiliki peranan penting dalam penyediaan protein hewani dan perekonomian Indonesia. Namun, industri ini menghadapi persoalan berulang berupa rendahnya harga live bird pada sejumlah periode, terutama ketika harga berada di bawah harga pokok produksi (HPP) peternak. Kondisi tersebut menekan margin peternak mandiri dan mengancam keberlanjutan usaha mereka. Berbagai kebijakan telah diterapkan untuk menahan penurunan harga live bird, antara lain penetapan harga acuan, pengaturan pasokan final stock day-old chick (DOC FS), pemotongan telur tetas, afkir dini parent stock (PS), serta penguatan hilirisasi melalui rumah potong ayam (RPA) dan rantai dingin. Efektivitas pengendalian tingkat harga masih menghadapi kendala karena pasokan terbentuk melalui keputusan produksi pada berbagai tingkat, akumulasi persediaan, serta waktu tunda biologis, operasional, dan informasi. Rantai pasok ayam broiler di Indonesia mencakup pembibitan, penyediaan pakan, hatchery, budi daya broiler, pasar live bird, RPA, distribusi daging ayam, pengecer, dan konsumen akhir. Pasokan live bird berasal dari peternak mandiri, peternak kemitraan, dan peternakan perusahaan. Pada sisi hulu, struktur pembibitan terdiri atas grandparent stock (GPS), PS, dan final stock (FS). Produksi DOC PS dan DOC FS dilakukan di dalam negeri, sedangkan penyediaan GPS masih bergantung pada impor DOC GPS. Keputusan impor DOC GPS memengaruhi kapasitas pembibitan PS dan produksi DOC FS, yang kemudian memengaruhi keputusan chick-in, pasokan live bird, penyerapan oleh RPA, persediaan daging ayam, dan harga pasar. Hubungan tersebut berlangsung pada horizon waktu yang berbeda dan membentuk mekanisme umpan balik dari hilir hingga hulu. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model dinamika sistem rantai pasok ayam broiler nasional untuk menjelaskan mekanisme struktural yang menyebabkan rendahnya tingkat harga live bird dan posisinya di bawah HPP pada sejumlah periode, serta mengevaluasi skenario kebijakan pengendalian tingkat harga live bird. Pengembangan model dilakukan melalui pemetaan rantai pasok, penyusunan model konseptual, pengembangan causal loop diagram, formulasi stock and flow diagram, penyusunan persamaan, pengujian model, simulasi baseline, dan evaluasi skenario kebijakan. Model mencakup subsistem permintaan dan pasar daging ayam, rumah potong ayam (RPA), pasar live bird, budi daya broiler integrator dan non-integrator, pasar DOC FS, hatchery, pembibitan PS dan GPS, serta penentuan impor DOC GPS. Model diuji melalui pengujian struktur, pemeriksaan konsistensi dimensi, pengujian reproduksi perilaku, dan pertimbangan pakar. Hasil pengujian menunjukkan bahwa model mampu merepresentasikan kecenderungan agregat sistem, meskipun tidak dimaksudkan untuk memprediksi fluktuasi harga bulanan secara titik demi titik. Hasil simulasi baseline menunjukkan bahwa rendahnya tingkat harga live bird terbentuk dari ketidaksesuaian waktu dan kuantitas antara realisasi DOC FS, pasokan live bird, kebutuhan hilir, dan kemampuan penyerapan pasar. Kelebihan realisasi DOC FS yang terserap sebagai chick-in meningkatkan jumlah broiler dalam pemeliharaan dan menjadi tambahan pasokan live bird setelah melewati masa pemeliharaan. Apabila tambahan pasokan tidak terserap secara memadai oleh RPA dan saluran pemotongan lainnya, persediaan live bird meningkat dan memberikan tekanan penurunan terhadap harga. Pada saat yang sama, peningkatan biaya produksi memperlebar kesenjangan antara harga live bird dan HPP. Interaksi kedua mekanisme tersebut menyebabkan margin peternak mandiri berada pada nilai negatif dalam sejumlah periode. Hasil simulasi kebijakan menunjukkan bahwa hatchery setting adjustment pada Skenario 1 mampu menahan pertumbuhan realisasi DOC FS dan mengurangi akumulasi persediaan DOC FS setelah potensi penetasan melampaui kebutuhan. Namun, pengaruhnya terhadap realisasi chick-in nonintegrator, persediaan live bird, harga live bird, dan margin peternak relatif terbatas sehingga kebijakan ini belum memadai sebagai instrumen tunggal. Skenario demand-driven GPS DOC import correction mampu mengubah kapasitas pembibitan dan mengurangi persediaan live bird dibandingkan dengan kondisi baseline. Namun, penerapan kebijakan pada kekuatan penuh menghasilkan fluktuasi kapasitas pembibitan, perubahan besar pada potensi penetasan DOC FS, serta kontraksi chick-in akibat waktu tunda administratif dan biologis. Perbaikan harga dan margin yang dihasilkan tetap terbatas dan margin peternak masih bernilai negatif. Skenario kombinasi yang menerapkan kedua kebijakan secara penuh menghasilkan pengurangan persediaan live bird paling besar, tetapi juga menimbulkan kontraksi chick-in yang lebih awal dan dalam. Peningkatan harga yang terjadi relatif kecil dan sementara sehingga belum mampu memperbaiki margin peternak secara berkelanjutan. Tidak satu pun skenario mampu secara bersamaan mengendalikan persediaan, meningkatkan harga secara berkelanjutan, dan memulihkan margin peternak. Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian pasokan hulu dapat mengurangi persediaan, tetapi belum cukup untuk memulihkan harga dan margin peternak karena hasilnya juga dipengaruhi oleh kapasitas penyerapan hilir dan tekanan biaya produksi. Berbeda dari penelitian terdahulu yang umumnya membahas sebagian segmen rantai pasok atau memperlakukan kapasitas pembibitan sebagai faktor eksogen, penelitian ini menempatkan mekanisme pengendalian pembibitan sebagai bagian dari struktur internal model melalui struktur pengendalian ganda (dual control structure). Struktur tersebut mengintegrasikan penyesuaian kapasitas jangka panjang melalui keputusan impor DOC GPS berbasis kebutuhan sistem dan pengendalian operasional jangka pendek melalui hatchery setting adjustment. Penelitian ini juga memformulasikan keterkaitan pasar DOC FS, pasar live bird, dan pasar daging ayam sebagai mekanisme transmisi dinamis lintas pasar melalui keputusan pelaku usaha, aliran pasokan, akumulasi persediaan, umpan balik harga dan margin, serta waktu tunda. Model yang dikembangkan menyediakan kerangka analitis untuk memahami pengendalian tingkat harga live bird sebagai persoalan koordinasi rantai pasok pada berbagai horizon waktu.