digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Telemedicine memiliki potensi untuk meningkatkan aksesibilitas sekaligus kualitas layanan kesehatan. Pasien dapat mengakses layanan telemedicine melalui berbagai moda, salah satunya melalui aplikasi digital. Oleh karena itu, evaluasi tasktechnology fit (TTF) pada aplikasi telemedicine menjadi penting untuk memastikan bahwa aplikasi tersebut mampu memenuhi kebutuhan pengguna dan, khususnya, mendukung tugas-tugas dokter dalam memberikan layanan kesehatan jarak jauh. Namun, hingga saat ini belum tersedia instrumen yang secara khusus dikembangkan untuk menilai TTF aplikasi telemedicine dari perspektif dokter. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model dan instrumen evaluasi TTF aplikasi telemedicine guna meningkatkan penggunaan aplikasi dan kinerja dokter. Penelitian disertasi ini terdiri dari lima tahap utama, yaitu tahap pendahuluan, pengembangan model, pengujian model, pengembangan instrumen evaluasi, serta tahap analisis dan penarikan kesimpulan. Tahap pengembangan model meliputi tiga subtahap, yaitu pengembangan model awal, pelaksanaan wawancara, serta pengembangan model akhir dan hipotesis penelitian. Wawancara dilakukan terhadap tujuh belas dokter dan dianalisis menggunakan metode content analysis. Selanjutnya, tahap pengujian model mencakup empat subtahap, yaitu perancangan kuesioner, pengujian awal dan perbaikan kuesioner, pengumpulan data kuesioner, serta pengolahan data kuesioner. Pengujian awal kuesioner meliputi content validity oleh enam ahli dan face validity oleh sepuluh dokter. Pengumpulan data kuesioner menghasilkan 185 data valid yang dapat digunakan untuk analisis selanjutnya. Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk mengevaluasi measurement model dan structural model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TTF aplikasi telemedicine dari sudut pandang dokter dapat dikonseptualisasikan sebagai konstruk orde kedua yang bersifat reflective-reflective, yang direpresentasikan oleh sembilan dimensi, yaitu clinical communication (CCM), clinical decision support (CDS), clinical task support (CTS), data quality & accessibility (DQA), data & services integration (DSI), ease of use & support (EUS), privacy & security (PSC), scheduling & notification (SCN), dan system reliability (SRB). Dari sisi individual characteristics, faktor ii yang terbukti memengaruhi TTF adalah individual technology readiness, digital literacy, dan motivation, sedangkan self-efficacy tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap TTF. TTF terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap utilization dan perceived performance impact (PPI). Selain itu, utilization juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap PPI, dan TTF terbukti memoderasi hubungan antara utilization dan PPI. Lebih lanjut, PPI berpengaruh positif dan signifikan terhadap continuance intention. Meskipun TTF tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap continuance intention, TTF memiliki pengaruh tidak langsung melalui PPI. Pada penelitian ini juga berhasil dikembangkan instrumen Telemedicine Application Task-Technology Fit Questionnaire (TATTFQ) sebagai alat ukur untuk mengevaluasi TTF aplikasi telemedicine dari perspektif dokter. Instrumen akhir terdiri dari 36 item yang mencakup sembilan dimensi TTF. Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki landasan validitas dan reliabilitas yang memadai, meliputi content validity, face validity, internal consistency reliability, convergent validity, discriminant validity, dan predictive validity. Selain itu, hasil pengukuran TTF yang diperoleh melalui TATTFQ dapat diinterpretasikan menggunakan pendekatan Importance-Performance Analysis (IPA), sehingga memungkinkan identifikasi atribut atau dimensi yang menjadi prioritas perbaikan dalam pengembangan dan penyempurnaan aplikasi telemedicine.