Telemedicine memiliki potensi untuk meningkatkan aksesibilitas sekaligus kualitas
layanan kesehatan. Pasien dapat mengakses layanan telemedicine melalui berbagai
moda, salah satunya melalui aplikasi digital. Oleh karena itu, evaluasi tasktechnology
fit (TTF) pada aplikasi telemedicine menjadi penting untuk memastikan
bahwa aplikasi tersebut mampu memenuhi kebutuhan pengguna dan, khususnya,
mendukung tugas-tugas dokter dalam memberikan layanan kesehatan jarak jauh.
Namun, hingga saat ini belum tersedia instrumen yang secara khusus
dikembangkan untuk menilai TTF aplikasi telemedicine dari perspektif dokter.
Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan
model dan instrumen evaluasi TTF aplikasi telemedicine guna meningkatkan
penggunaan aplikasi dan kinerja dokter.
Penelitian disertasi ini terdiri dari lima tahap utama, yaitu tahap pendahuluan,
pengembangan model, pengujian model, pengembangan instrumen evaluasi, serta
tahap analisis dan penarikan kesimpulan. Tahap pengembangan model meliputi tiga
subtahap, yaitu pengembangan model awal, pelaksanaan wawancara, serta
pengembangan model akhir dan hipotesis penelitian. Wawancara dilakukan
terhadap tujuh belas dokter dan dianalisis menggunakan metode content analysis.
Selanjutnya, tahap pengujian model mencakup empat subtahap, yaitu perancangan
kuesioner, pengujian awal dan perbaikan kuesioner, pengumpulan data kuesioner,
serta pengolahan data kuesioner. Pengujian awal kuesioner meliputi content validity
oleh enam ahli dan face validity oleh sepuluh dokter. Pengumpulan data kuesioner
menghasilkan 185 data valid yang dapat digunakan untuk analisis selanjutnya.
Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) digunakan untuk
mengevaluasi measurement model dan structural model.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa TTF aplikasi telemedicine dari sudut pandang
dokter dapat dikonseptualisasikan sebagai konstruk orde kedua yang bersifat
reflective-reflective, yang direpresentasikan oleh sembilan dimensi, yaitu clinical
communication (CCM), clinical decision support (CDS), clinical task support
(CTS), data quality & accessibility (DQA), data & services integration (DSI), ease
of use & support (EUS), privacy & security (PSC), scheduling & notification
(SCN), dan system reliability (SRB). Dari sisi individual characteristics, faktor
ii
yang terbukti memengaruhi TTF adalah individual technology readiness, digital
literacy, dan motivation, sedangkan self-efficacy tidak terbukti berpengaruh
signifikan terhadap TTF. TTF terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap
utilization dan perceived performance impact (PPI). Selain itu, utilization juga
berpengaruh positif dan signifikan terhadap PPI, dan TTF terbukti memoderasi
hubungan antara utilization dan PPI. Lebih lanjut, PPI berpengaruh positif dan
signifikan terhadap continuance intention. Meskipun TTF tidak memiliki pengaruh
langsung yang signifikan terhadap continuance intention, TTF memiliki pengaruh
tidak langsung melalui PPI.
Pada penelitian ini juga berhasil dikembangkan instrumen Telemedicine
Application Task-Technology Fit Questionnaire (TATTFQ) sebagai alat ukur untuk
mengevaluasi TTF aplikasi telemedicine dari perspektif dokter. Instrumen akhir
terdiri dari 36 item yang mencakup sembilan dimensi TTF. Hasil pengujian
menunjukkan bahwa instrumen ini memiliki landasan validitas dan reliabilitas yang
memadai, meliputi content validity, face validity, internal consistency reliability,
convergent validity, discriminant validity, dan predictive validity. Selain itu, hasil
pengukuran TTF yang diperoleh melalui TATTFQ dapat diinterpretasikan
menggunakan pendekatan Importance-Performance Analysis (IPA), sehingga
memungkinkan identifikasi atribut atau dimensi yang menjadi prioritas perbaikan
dalam pengembangan dan penyempurnaan aplikasi telemedicine.
Perpustakaan Digital ITB