digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia, terletak pada pertemuan lempeng tektonik Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik dalam Cincin Api Pasifik, menunjukkan aktivitas seismik tinggi, menyumbang lebih dari 80% gempabumi signifikan global. Tsunami seperti Aceh 2004 (Mw 9.1), Nias 2005 (Mw 8.6), dan Palu 2018 (Mw 7.5) menegaskan kebutuhan sistem peringatan dini tsunami yang cepat dan akurat. Metode seismik konvensional, seperti GCMT, memerlukan lebih dari 20 menit untuk inversi tensor momen, melampaui jendela ideal <10 menit. Penelitian ini mengembangkan model analisis cepat tensor momen menggunakan data high-rate GNSS CORS 1 Hz dari jaringan Ina-CORS untuk memperkuat InaTEWS.Fokus pada gempabumi Padang 2009 (Mw 7.6), Simeulue 2012 (Mw 8.6), Nias 2011 (Mw 6.1), Mentawai 2010 (Mw 7.8), dan Palu 2018 (Mw 7.5), penelitian ini memanfaatkan PRIDE PPP-AR untuk posisi presisi, deteksi gelombang P (Wavelet, STA/LTA, AIC), dan inversi tensor momen (AK135, gil7, IASP91, PREM). Hasil penelitian menunjukkan estimasi parameter sumber dalam 80–215 detik, dengan AK135 mencapai reduksi varians 64,44%–68%. Validasi terhadap BMKG, USGS, dan GCMT menunjukkan deviasi magnitudo <0,1 dan mekanisme fokus <10%. Sinyal perpindahan GNSS mengindikasikan dominasi vertikal pada subduksi dan horizontal pada strike-slip, meskipun distribusi stasiun tidak merata diatasi dengan pengurangan noise. Temuan mengkonfirmasi efektivitas data GNSS CORS untuk estimasi cepat tensor momen pada jaringan jarang, mendukung InaTEWS sesuai Peraturan Presiden No. 93/2019 dan SDGs. Tantangan distribusi stasiun dan noise merekomendasikan ekspansi jaringan, optimasi machine learning, dan integrasi data oseanografi. Penelitian ini berkontribusi pada seismologi GNSS dan mitigasi bencana.