digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia memiliki kelembapan atmosfer yang tinggi akibat iklim tropisnya, tetapi akses terhadap air bersih masih terbatas di sejumlah wilayah. Pemanenan air dari atmosfer (atmospheric water harvesting, AWH) menawarkan sumber air alternatif melalui penangkapan uap air langsung dari udara lembap. Penelitian ini mengkaji pengaruh metode pembentukan membran PVDF dan teknik pelapisan kitosan terhadap karakteristik membran dan kinerja AWH. Membran poli(vinilidena fluorida) (PVDF) dibuat menggunakan metode non-solvent-induced phase separation (NIPS), kemudian dimodifikasi melalui kristalisasi, aktivasi permukaan, deposisi polidopamin (PDA), serta pelapisan kitosan dengan metode pencelupan, penyemprotan, dan pengikatan silang menggunakan glutaraldehida. Karakterisasi dilakukan menggunakan FTIR, XRD, pengukuran sudut kontak air, ketebalan, penyerapan air, dan permeabilitas gas, sedangkan kinerja AWH diuji selama enam jam pada kondisi kelembapan tinggi yang terkendali. Kristalisasi meningkatkan kristalinitas semu PVDF dari 17,8% menjadi 23,8-29,6%, tetapi pengaruhnya terhadap kinerja AWH lebih kecil dibandingkan pelapisan permukaan. Modifikasi PDA dan kitosan menurunkan sudut kontak air dari 87,00?menjadi minimum 47,83?, meningkatkan penyerapan air dari 0,488menjadi 1,460 g/g, dan menurunkan permeabilitas gas dari 0,00222menjadi 0,00136 m2/(bar?s). Membran terkristalisasi dan terikat silang menunjukkan kinerja terbaik dengan menghasilkan 113,37 gair selama enam jam dan laju pemanenan air sebesar 0,756 g cm?2 jam?1, atau 55,6% lebih tinggi dibandingkan PVDF murni. Penyerapan air memiliki hubungan terkuat dengan laju pemanenan air (????2,=08592). Secara keseluruhan, pengikatan silang kitosan merupakan strategi modifikasi paling efektif, sedangkan kristalisasi memberikan peningkatan tambahan yang lebih kecil.