Industri konstruksi Indonesia berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional,
namun masih menghadapi persoalan kinerja mendasar dari sisi produktivitas,
ketepatan waktu, dan keselamatan (Willar et al., 2015; Kog, 2019; Ghuzdewan &
Damanik, 2019). Teknologi baru diyakini mampu menjawab persoalan tersebut
(Sepasgozar & Davis, 2018), namun sektor konstruksi justru dikenal lambat
mengadopsi teknologi akibat fragmentasi sektor dan sifat kegiatannya yang
berbasis proyek (Brozovsky et al., 2024). Persoalannya bukan pada ketiadaan
manfaat teknologi, melainkan pada lemahnya mekanisme yang menghubungkan
ketersediaan teknologi dengan kemampuan stakeholder untuk mengidentifikasi dan
mengambil keputusan. Lanskap teknologi (technology landscape) berpotensi
menjadi mekanisme penghubung itu dengan membantu identifikasi teknologi,
menjadi dasar pengambilan keputusan strategis, serta mendorong inovasi dan
adopsinya (Spitsberg et al., 2013; Sepasgozar & Davis, 2018). Namun potensi ini
belum terwujud di Indonesia: penelitian pemetaan teknologi yang ada bersifat
global atau terbatas pada topik tunggal, sehingga belum menggambarkan kondisi
teknologi konstruksi Indonesia secara menyeluruh. Data teknologi pun diyakini
sudah dimiliki berbagai stakeholder, namun tersebar dalam bentuk dan konteks
yang beragam sehingga belum terintegrasi menjadi satu pemahaman bersama yang
tervalidasi dan dapat dimanfaatkan untuk mendorong pengambilan keputusan serta
inovasi/adopsi teknologi konstruksi. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan Kerangka Kerja Lanskap Teknologi yang tervalidasi untuk
Industri Konstruksi Indonesia yang mendukung dokumentasi, pemahaman, dan
pengambilan keputusan strategis terkait pengembangan dan pemanfaatan teknologi
konstruksi, melalui: Pengembangan kerangka kerja konseptual yang terdiri atas
bentuk/ arsitektur dan elemen penyusun lanskap (klasifikasi teknologi), Evaluasi
kualitas data teknologi konstruksi yang tersedia secara publik, Eksplorasi metode
identifikasi dan klasifikasi teknologi konstruksi secara otomatis, serta Validasi
kerangka kerja lanskap teknologi. Lanskap Teknologi Konstruksi dalam penelitian
ini dirumuskan sebagai suatu gambaran yang digunakan untuk mengidentifikasi
teknologi saat ini dalam domain konstruksi, sebagai sarana untuk membantu
pencarian teknologi potensial yang dibutuhkan oleh praktisi, peneliti, pengembang
dan stakeholder industri konstruksi. Elemen penyusun lanskap teknologi berhasil
dirumuskan penelitian melalui kajian literatur yang divalidasi terhadap kebutuhan
stakeholder industri melalui kuesioner dan Focus Group Discussion (FGD). Secara
ii
garis besar, elemen lanskap terdiri atas empat kategori data, yaitu deskripsi,
ketersediaan/ akses, implementasi/ pemanfaatan, dan pengembangan teknologi.
Evaluasi data teknologi konstruksi di Indonesia dilakukan sebagai tahapan dalam
penyusunan bangun/ bentuk dan perumusan mekanisme penyusunan lanskap.
Berdasarkan hasil evaluasi kualitas data, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar
data teknologi konstruksi di Indonesia memiliki dua karakteristik utama, yaitu: 1).
bersifat tidak terstruktur dengan informasi terbatas atau 2). berupa kumpulan data
skala besar yang bersifat semi-terstruktur, berasal dari sumber yang kredibel,
namun memiliki frekuensi pembaruan yang tidak teratur. Hasil kuesioner juga
mengonfirmasi bahwa pemerintah memiliki tingkat ketersediaan data tertinggi
dibandingkan dengan industri dan akademisi. Akan tetapi, walaupun data tersedia
secara fisik, standardisasi format data masih menjadi kendala utama. Penelitian ini
melakukan eksplorasi metode identifikasi teknologi otomatis melalui sebagai salah
satu upaya mengintegrasikan data dari berbagai sumber melalui pencocokan entitas
teknologi. Namun demikian, hasil eksplorasi menunjukkan bahwa validasi manusia
tetap penting dalam memastikan kesesuaian konteks data, sehingga intervensi
manusia tetap dipertahankan dalam rekomendasi strategi pengembangan lanskap
yang disusun. Bangun lanskap teknologi dirumuskan melalui rekomendasi
visualisasi lanskap berdasarkan kombinasi elemen penyusun lanskap, dengan
mempertimbangkan peran dari masing-masing stakeholder di industri sebagai
penerima manfaat lanskap. Walaupun penelitian berhasil mengidentifikasi
ketersediaan data teknologi di berbagai stakeholder, akan tetapi penelitian belum
berhasil secara akurat memberikan gambaran hasil integrasi berbagai data dari
sumber dengan konteks yang berbeda. Keterbatasan ini menjadi dasar penyusunan
rekomendasi pengembangan lanskap ke depan.
Perpustakaan Digital ITB