digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Noerma Juli Azhari
PUBLIC Open In Flipbook Ridha Pratama Rusli

Konversi langsung CO? menjadi hidrokarbon cair, seperti senyawa aromatik benzena, toluena, dan xilena (BTX), merupakan topik yang sedang menjadi perhatian karena potensinya dalam mengatasi masalah lingkungan sekaligus menghasilkan produk bernilai tinggi. Namun, hingga kini, proses tersebut masih menghadapi tantangan berupa rendahnya aktivitas katalis, selektivitas terhadap produk aromatik ringan serta stabilitas katalis dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja katalis bifungsional berbasis besi oksida dan zeolit dalam konversi gas CO? menjadi aromatik. Penelitian berfokus pada modulasi situs aktif pada katalis besi oksida serta rekayasa struktur pori pada katalis zeolit melalui penambahan templat nano CaCO3 dengan metode bebas pelarut. Modulasi situs aktif dilakukan dengan penambahan promotor dan pengaturan kondisi reduksi. Sedangkan rekayasa struktur pori dilakukan dengan menambahkan templat CaCO3 pada sintesis zeolit melalui metode bebas pelarut. Katalis zeolit pada penelitian ini didesain memiliki 3 sistem pori, yaitu mikropori, mesopori, dan makropori yang diharapkan dapat menyediakan situs aktif yang cukup dan mudah diakses melalui adanya mesopori dan makropori. Selain itu, juga sebagai tempat penampung bagi terbentuknya kokas selama reaksi, sehingga deaktivasi pada katalis zeolit dapat dihambat. Masing-masing katalis yang disintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD, FTIR, XRF, SEM, TEM, TGA, dan XPS. Selain itu, sebelum digunakan sebagai sistem katalis bifungsional besi oksida/zeolit, masing-masing katalis diuji secara terpisah menggunakan umpan berturut-turut CO2 dan C2H4 untuk katalis besi oksida dan zeolit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya Cu yang terdistribusi rata mengubah sifat elektronik katalis Fe2O3 yang berpengaruh pada peningkatan selektivitas olefin. Selain itu, modulasi situs aktif melalui pengaturan gas pereduksi menggunakan CO dapat meningkatkan situs Fe2C5 yang kemudian berperan aktif dalam menghasilkan intermediet seperti olefin dan parafin. Peningkatan situs aktif karbida ini diiringi dengan peningkatan rasio produk olefin terhadap parafin mencapai 60% lebih besar dibandingkan dengan katalis yang direduksi dengan H2. Selanjutnya, keberadaan templat CaCO3 pada sistem sintesis zeolit tanpa adanya pelarut terbukti dapat menghasilkan zeolit dengan tiga tingkat pori (mikropori, mesopori, dan makropori) Hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan rasio templat/SiO2 mempengaruhi pembentukan mesopori serta distribusi ukuran partikel. Sebaliknya, kristalinitas serta keasaman yang dihasilkan cenderung identik. Tingkat hierarki optimum, yang direpresentasikan oleh nilai Index Hierarchy Factor (IHF), dicapai pada rasio templat/SiO2 = 0,5. Selanjutnya, hasil evaluasi katalis zeolit pada reaksi konversi etilena menjadi aromatik menunjukkan adanya hubungan yang linier antara tingkat hierarki dengan aktivitas dan stabilitas katalis yang diwakili oleh nilai konversi, TOF, dan kandungan kokas. Adapun perbedaan keasaman pada zeolit secara signifikan memengaruhi konversi serta perolehan produk cair. Sedangkan jumlah asam total berkorelasi positif terhadap selektivitas aromatik. Evaluasi pengaruh kondisi reaksi pada produksi senyawa aromatik dari gas etilena menggunakan katalis zeolit menunjukkan bahwa selektivitas terhadap senyawa aromatik sangat dipengaruhi oleh temperatur reaksi, yang meningkat berturut-turut sebesar 0%, 16,57%, 58,29%, dan 75,28% pada temperatur 250 ?, 320 ?, 380 ?, dan 450 ?. Adapun peningkatan tekanan berpengaruh pada pembentukan senyawa berat, dan GHSV berpengaruh terhadap perolehan BTX dengan selektivitas terhadap senyawa BTX yang hampir mirip. Pengujian katalis pada sistem bifungsional menunjukkan hasil yang sejalan dengan pengujian pada bifungsional besi oksida/zeolit, menunjukkan bahwa isoparafin pada komposisi umpan CO2:H2 = 1:6 gabungan katalis Cu-Fe2O3/Zeolit menggunakan zeolit komersial yang direduksi menggunakan gas CO dapat meningkatkan perolehan fraksi C??, dengan produk dominan berupa isoparafin. Selain itu, olefin rantai panjang seperti diena dan hidrokarbon siklik yang merupakan prekursor pembentukan senyawa aromatik juga terobservasi pada kondisi ini. Fraksi aromatik kemudian diamati pada peningkatan jumlah CO2 (CO2:H2 1:3) dengan selektivitas aromatik total sebesar 8,82% dengan konversi CO2 sebesar 34,78%. Aktivitas ini dapat ditingkatkan dengan menggunakan zeolit hasil sintesis optimum yang telah diuji pada tahap sebelumnya (HZS-50-25), yaitu menghasilkan konversi sebesar 46,71% dengan selektivitas aromatik yang meningkat sebesar 28,76%. Peningkatan ini disertai dengan penurunan selektivitas gas CO yang signifikan dari 42% ke 9,22% berturut-turut untuk zeolit komersial dan zeolit sintesis dan peningkatan perolehan aromatik BTX sebesar 13,21% dibandingkan dengan katalis bifungsional menggunakan zeolit komersial yang hanya menghasilkan perolehan BTX sebesar 3,07%. Hasil ini membuktikan efek signifikan adanya pori 3 tingkat pada zeolit hasil sintesis yang membantu mempercepat difusi molekul untuk mencapai dan keluar dari sisi aktif zeolit