digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengembangan Indeks Resiliensi Kekeringan Individu: Studi Kasus Kecamatan Jatinangor Kekeringan merupakan fenomena alam yang berdampak luas terhadap ketersediaan air bersih, khususnya bagi rumah tangga yang bergantung pada sumber air mandiri. Indonesia mencatat jumlah korban kekeringan tertinggi di kawasan ASEAN pada periode 1987–2016, dengan 683 dari 691 total korban berasal dari Indonesia. Meskipun berbagai indeks telah dikembangkan untuk mengukur resiliensi kekeringan pada skala komunitas dan infrastruktur, instrumen pengukuran berbasis individu atau rumah tangga yang mengintegrasikan kapasitas adaptasi secara eksplisit belum tersedia. Penelitian ini mengembangkan Drought Resilience Index (DRI) yang dikembangkan oleh Sudradjat dkk. (2020) menjadi Indeks Resiliensi Kekeringan Individu (IRKI) melalui penambahan dimensi Kapasitas Adaptif Sosial — dipilih melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bobot prioritas 0,259 dari 10 tenaga ahli (Consistency Ratio = 0,019) — dan reformulasi model agregasi menggunakan Nested Frank Copula dua tahap untuk menangkap dependensi non-linear antardimensi. IRKI diimplementasikan pada 124 rumah tangga di Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor. Struktur nested copula tervalidasi memenuhi syarat |?inner| ? |?outer| (3,528 ? 1,564). Hasil implementasi menunjukkan 77,4% rumah tangga berada pada kondisi defisit ketahanan kekeringan (IRKI ? ?0,8), dengan robustness yang dikonfirmasi melalui bootstrap nonparametrik (B = 1.000; 95% CI proporsi kritis [70,2%, 86,3%]) dan uji sensitivitas One-at-a-Time (OAT) pada perturbasi parameter ±10–30% tanpa perubahan kategoris. Kontribusi metodologis IRKI meliputi penambahan dimensi Kapasitas Adaptif Sosial yang terukur secara kuantitatif, penerapan Nested Frank Copula sebagai metode agregasi non-linear, serta formulasi indeks pada skala individu yang divalidasi secara statistik.