digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Irene Larasati Dewi
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Isu interoperabilitas data merupakan salah satu hambatan utama dalam implementasi Building Information Modelling (BIM) pada proyek infrastruktur yang melibatkan rantai pasok beton pracetak. Di Indonesia, kondisi ini diperburuk oleh belum tersedianya acuan bersama yang mendefinisikan struktur informasi, format data, dan pembagian tanggung jawab antar pihak dalam penyediaan dan penggunaan BIM object produk pracetak. Produsen, kontraktor, dan konsultan mengembangkan model digital secara mandiri dengan perangkat lunak dan format yang berbeda, sehingga pertukaran informasi antar pihak tidak berlangsung secara sistematis dan konsisten. Kondisi ini menyebabkan kehilangan data pada setiap titik transisi dalam rantai pasok, yang berimplikasi pada rendahnya keandalan informasi untuk mendukung proses fabrikasi dan konstruksi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan framework klasifikasi dan parameterisasi BIM object library yang bersifat vendor-neutral untuk elemen beton pracetak box girder segmental di Indonesia. Framework dirancang untuk mendefinisikan parameter informasi minimal pada LOD 400, memetakannya ke dalam skema IFC 4.3, serta menetapkan pembagian peran antar aktor dalam alur pertukaran informasi sepanjang rantai pasok. Studi kasus difokuskan pada empat tipologi segmen box girder yaitu Launch Segment (LS), Segment Voided (SV), Segment Standar (S1), dan Deviator Segment (DV1). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis framework synthesis dengan lima tahap metodologi. Tahap 1 memetakan kondisi pertukaran informasi eksisting melalui wawancara semi-terstruktur kepada enam informan dari tiga kelompok aktor, yaitu produsen, kontraktor, dan konsultan, serta analisis dokumen teknis berupa shop drawing dan katalog produk. Tahap 2 mengidentifikasi dan memvalidasi parameter melalui kuesioner kepada 15 responden (5 per kelompok aktor) menggunakan metode Content Validity Ratio (CVR) Lawshe (1975). Tahap 3 mengevaluasi keterwakilan parameter lintas keempat tipologi segmen. Tahap 4 mensintesis seluruh temuan menjadi framework konseptual tiga komponen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur informasi aktual dalam rantai pasok box girder pracetak berjalan secara berjenjang dari konsultan perancang menuju kontraktor, lalu diteruskan kepada produsen. Pola ini berlawanan dengan asumsi awal penelitian dan menunjukkan bahwa produsen belum berperan sebagai penyedia data digital yang dapat diadopsi langsung ke dalam model BIM proyek. Melalui validasi CVR, berhasil diidentifikasi 94 parameter yang tersebar dalam sembilan kelompok, yaitu Geometri, Material, Tulangan, Sistem Prestress, Aksesoris Fabrikasi, Identifikasi Produk, Quality Control, Logistik, dan Instalasi/Erection. Dari jumlah tersebut, 90 ii parameter (95,74%) diakomodasi dalam framework dengan perincian 79 parameter berlaku universal pada seluruh tipologi segmen dan 11 parameter bersifat kondisional terikat pada tipologi tertentu. Framework yang dihasilkan terdiri atas tiga komponen yang saling berelasi. Komponen A mendefinisikan 90 parameter kebutuhan informasi BIM object box girder pada LOD 400 beserta statusnya. Komponen B memetakan seluruh parameter ke dalam skema IFC 4.3 menggunakan entitas IfcBeam/GIRDER_SEGMENT, dengan hasil 42 parameter terpetakan melalui Property Set standar, 42 parameter melalui atribut langsung entitas, dan 6 parameter berstatus near-match. Tidak ditemukan kebutuhan custom property set, yang menunjukkan bahwa skema standar IFC 4.3 sudah memadai untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan informasi elemen box girder segmental tanpa bergantung pada perangkat lunak BIM tertentu. Komponen C menetapkan pembagian peran penyedia dan pengguna setiap parameter berdasarkan temuan alur informasi aktual, melibatkan lima aktor dalam empat tahap proses yaitu Desain dan Spesifikasi, Fabrikasi, Pengiriman, serta Erection dan Penerimaan. Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian implementasi BIM di tingkat mikro, yaitu pada level objek dan produk konstruksi, dalam konteks industri pracetak Indonesia yang selama ini belum memiliki acuan terstandar. Temuan bahwa seluruh 90 parameter dapat diakomodasi tanpa custom property set merupakan konfirmasi empiris atas kecukupan skema IFC 4.3 untuk elemen infrastruktur pracetak, sekaligus mengisi celah yang diidentifikasi oleh Duddy dkk. (2013) dan Ergen dan Akinci (2008) bahwa formalisasi informasi pracetak perlu disertai mekanisme data yang terstandar. Selain itu, penelitian ini mengusulkan ekstensi Level 5 pada OmniClass Table 23 untuk mengakomodasi tipologi segmental box girder yang belum terwakili dalam standar internasional yang ada, sebagai kontribusi orisinal terhadap sistem klasifikasi. Framework yang dihasilkan tidak dimaksudkan sebagai produk akhir, melainkan sebagai landasan konseptual yang dapat diuji dan disempurnakan sesuai kebutuhan industri dan pengembangan standar BIM nasional selanjutnya.