Isu interoperabilitas data merupakan salah satu hambatan utama dalam implementasi
Building Information Modelling (BIM) pada proyek infrastruktur yang melibatkan
rantai pasok beton pracetak. Di Indonesia, kondisi ini diperburuk oleh belum
tersedianya acuan bersama yang mendefinisikan struktur informasi, format data, dan
pembagian tanggung jawab antar pihak dalam penyediaan dan penggunaan BIM object
produk pracetak. Produsen, kontraktor, dan konsultan mengembangkan model digital
secara mandiri dengan perangkat lunak dan format yang berbeda, sehingga pertukaran
informasi antar pihak tidak berlangsung secara sistematis dan konsisten. Kondisi ini
menyebabkan kehilangan data pada setiap titik transisi dalam rantai pasok, yang
berimplikasi pada rendahnya keandalan informasi untuk mendukung proses fabrikasi
dan konstruksi.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan framework klasifikasi dan parameterisasi
BIM object library yang bersifat vendor-neutral untuk elemen beton pracetak box
girder segmental di Indonesia. Framework dirancang untuk mendefinisikan parameter
informasi minimal pada LOD 400, memetakannya ke dalam skema IFC 4.3, serta
menetapkan pembagian peran antar aktor dalam alur pertukaran informasi sepanjang
rantai pasok. Studi kasus difokuskan pada empat tipologi segmen box girder yaitu
Launch Segment (LS), Segment Voided (SV), Segment Standar (S1), dan Deviator
Segment (DV1).
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis framework synthesis dengan
lima tahap metodologi. Tahap 1 memetakan kondisi pertukaran informasi eksisting
melalui wawancara semi-terstruktur kepada enam informan dari tiga kelompok aktor,
yaitu produsen, kontraktor, dan konsultan, serta analisis dokumen teknis berupa shop
drawing dan katalog produk. Tahap 2 mengidentifikasi dan memvalidasi parameter
melalui kuesioner kepada 15 responden (5 per kelompok aktor) menggunakan metode
Content Validity Ratio (CVR) Lawshe (1975). Tahap 3 mengevaluasi keterwakilan
parameter lintas keempat tipologi segmen. Tahap 4 mensintesis seluruh temuan
menjadi framework konseptual tiga komponen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur informasi aktual dalam rantai pasok box
girder pracetak berjalan secara berjenjang dari konsultan perancang menuju
kontraktor, lalu diteruskan kepada produsen. Pola ini berlawanan dengan asumsi awal
penelitian dan menunjukkan bahwa produsen belum berperan sebagai penyedia data
digital yang dapat diadopsi langsung ke dalam model BIM proyek. Melalui validasi
CVR, berhasil diidentifikasi 94 parameter yang tersebar dalam sembilan kelompok,
yaitu Geometri, Material, Tulangan, Sistem Prestress, Aksesoris Fabrikasi, Identifikasi
Produk, Quality Control, Logistik, dan Instalasi/Erection. Dari jumlah tersebut, 90
ii
parameter (95,74%) diakomodasi dalam framework dengan perincian 79 parameter
berlaku universal pada seluruh tipologi segmen dan 11 parameter bersifat kondisional
terikat pada tipologi tertentu.
Framework yang dihasilkan terdiri atas tiga komponen yang saling berelasi.
Komponen A mendefinisikan 90 parameter kebutuhan informasi BIM object box
girder pada LOD 400 beserta statusnya. Komponen B memetakan seluruh parameter
ke dalam skema IFC 4.3 menggunakan entitas IfcBeam/GIRDER_SEGMENT,
dengan hasil 42 parameter terpetakan melalui Property Set standar, 42 parameter
melalui atribut langsung entitas, dan 6 parameter berstatus near-match. Tidak
ditemukan kebutuhan custom property set, yang menunjukkan bahwa skema standar
IFC 4.3 sudah memadai untuk mengakomodasi seluruh kebutuhan informasi elemen
box girder segmental tanpa bergantung pada perangkat lunak BIM tertentu. Komponen
C menetapkan pembagian peran penyedia dan pengguna setiap parameter berdasarkan
temuan alur informasi aktual, melibatkan lima aktor dalam empat tahap proses yaitu
Desain dan Spesifikasi, Fabrikasi, Pengiriman, serta Erection dan Penerimaan.
Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian implementasi BIM di tingkat mikro,
yaitu pada level objek dan produk konstruksi, dalam konteks industri pracetak
Indonesia yang selama ini belum memiliki acuan terstandar. Temuan bahwa seluruh
90 parameter dapat diakomodasi tanpa custom property set merupakan konfirmasi
empiris atas kecukupan skema IFC 4.3 untuk elemen infrastruktur pracetak, sekaligus
mengisi celah yang diidentifikasi oleh Duddy dkk. (2013) dan Ergen dan Akinci
(2008) bahwa formalisasi informasi pracetak perlu disertai mekanisme data yang
terstandar. Selain itu, penelitian ini mengusulkan ekstensi Level 5 pada OmniClass
Table 23 untuk mengakomodasi tipologi segmental box girder yang belum terwakili
dalam standar internasional yang ada, sebagai kontribusi orisinal terhadap sistem
klasifikasi. Framework yang dihasilkan tidak dimaksudkan sebagai produk akhir,
melainkan sebagai landasan konseptual yang dapat diuji dan disempurnakan sesuai
kebutuhan industri dan pengembangan standar BIM nasional selanjutnya.
Perpustakaan Digital ITB