digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Annisa Noor Innaya [27124033]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Batik tanah liek merupakan wastra khas Sumatera Barat yang memiliki keunikan pada proses pewarnaan tradisional menggunakan tanah liat. Namun, saat ini industri Batik tanah liek menghadapi tantangan berupa inkonsistensi hasil warna, hilangnya teknik tradisional pada sebagian perajin, serta ketergantungan bahan baku pewarna dari luar daerah. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan formulasi pewarna alami yang memanfaatkan potensi lokal Sumatera Barat, yakni kombinasi tanah lempung Lubuk Alung, limbah kulit jengkol (Archidendron jiringa), dan gambir (Uncaria gambir). Metode penelitian yang digunakan adalah Mixed Method dengan desain Sequential Exploratory. Tahap kualitatif dilakukan melalui pendekatan Rapid Ethnographic Assessment (REA) untuk memahami aspek sosiokultural dan konsepsi mengenai material lokal di kalangan perajin Sumatera Barat. Tahap kuantitatif dilanjutkan dengan eksperimen laboratorium (Research & Development) untuk menguji fiksasi warna dan ketahanan luntur (fastness test) pada kain katun primissima. Tanah lempung Lubuk Alung dipilih sebagai fokus pewarna utama karena kandungan mineralnya (kaolinit, montmorillonit, dan bentonit) yang memiliki daya adsorpsi pigmen tinggi serta kandungan mineral besi (Fe2+ ) yang memperkuat karakter pigmen alami. Penelitian ini menghasilkan luaran berupa matriks warna dan formulasi pewarnaan yang aplikatif bagi perajin. Penggunaan kombinasi tanah lempung Lubuk Alung, ekstrak kulit jengkol, dan getah gambir mampu menghasilkan variasi shade, intensitas warna yang lebih pekat, dan ketahanan luntur yang lebih baik dibandingkan penggunaan bahan tunggal. Secara praktis, formulasi ini diproyeksikan sebagai panduan untuk meningkatkan kualitas dan variasi produk batik tanah liek dengan prinsip keberlanjutan melalui pemanfaatan limbah organik dan sumber daya alam lokal yang melimpah