Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan global dengan estimasi
total 10 juta kasus dan 1,5 juta kematian tiap tahunnya. Salah satu metode
pencitraan yang digunakan sebagai pemeriksaan penunjang diagnosis tuberkulosis
adalah X-ray toraks. Untuk mendukung proses skrining tersebut, penelitian ini
mengembangkan sistem deteksi Tuberkulosis berbasis deep learning sebagai alat
bantu skrining TB. Penelitian ini meliputi beberapa tahap, yakni preprocessing
citra, training model deep learning, visualisasi area indikatif menggunakan Grad-
CAM, implementasi model pada situs web TBScan, serta validasi oleh dokter
spesialis paru. Sistem ini dibangun dengan membandingkan tiga model
Convolutional Neural Network, yakni VGG-16, DenseNet-121 (A) dan DenseNet-
121 (B). Dari hasil penelitian, model DenseNet-121 (B) menunjukkan performa
terbaik dengan nilai akurasi keseluruhan sebesar 94.1%, sensitivitas TB sebesar
89.3%, spesifisitas TB sebesar 98.6%, F1-score TB sebesar 89.3%, dan F1-score
macro sebesar 92.52% sehingga dipilih sebagai model utama yang kemudian
diimplementasikan ke dalam TBScan. Kemudian, berdasarkan hasil visualisasi
dengan Grad-CAM, diperoleh mean Intersection over Union (IoU) sebesar 0.137,
median IoU sebesar 0.109, menggunakan threshold heatmap sebesar 0.1, serta
persentase lokalisasi yang tepat sebesar 52.5%. Selanjutnya, sistem divalidasi oleh
seorang dokter spesialis paru dan memperoleh skor rata-rata sebesar 3.5 dari skala
5 untuk aspek relevansi klinis, fungsionalitas sistem, dan evaluasi prediksi Grad-
CAM. Hasil implementasi menunjukkan bahwa sistem TBScan memiliki potensi
sebagai alat bantu skrining tuberkulosis dengan dukungan visualisasi Grad-CAM
yang membantu interpretasi hasil prediksi model.
Perpustakaan Digital ITB