digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

DAVID CHRISTIAN
PUBLIC Open In Flipbook Latifa Noor

Industri tekstil merupakan salah satu sektor industri yang berkontribusi signifikan terhadap pencemaran lingkungan, terutama penggunaan zat warna sintetik yang sulit terurai, bersifat toksik serta berdampak pada ekosistem perairan maupun kesehatan manusia. Pewarna alami yang berasal dari sumber hayati, bersifat biodegradable serta relatif ramah lingkungan, merupakan salah satu solusi yang banyak dipelajari kemampuannya sebagai perwarna tekstil. Beberapa tanaman diketahui mengandung senyawa fenolik, flavonoid dan tanin yang dapat memberi warna pada serat tekstil. Namun, perwarna alami memiliki kekurangan diantaranya ketahanan warna terhadap cahaya, pencucian dan gosokan yang relatif rendah. Hal ini menyebabkan warna tekstil akan mudah pudar dan tidak dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Teknik pewarnaan tekstil dengan menggunaan zat warna alami menjadi tantangan pada skala besar di industri. Untuk meningkatkan interaksi zat warna alami dengan serat tekstil, beberapa jenis mordan dapat digunakan sebagai bahan perantara antara zat warna alami dan serat teksil. Dalam penelitian ini, zat warna alami yang digunakan berasal dari limbah padat teh. Adapun tujuan penelitian ini adalah mempelajari komposisi limbah padat teh dengan air, suhu, dan waktu pada proses ekstraksi agar diperoleh konsentrasi zat warna alami yang optimum serta mempelajari pengaruh jenis mordan dan teknik mordan pada proses pewarnaan tekstil. Pada proses ekstraksi, perbandingan berat LPT dan air yang digunakan yaitu 1:20; 1:30; dan 1: 40 (w/v), dengan variasi suhu air (50,70, dan 95 ?C) dan waktu ekstraksi (30,60,90, dan 120 menit). Produk ekstraksi yang optimum diperoleh pada kondisi perbandingan berat LPT dan air 1:20, suhu 70 ?C, dan waktu 120 menit. Hasil dari pengujian ini menunjukan bahwa kenaikan suhu dan waktu mempengaruhi pada banyaknya jumlah kandungan fenolik yang dapat terisolasi dalam pelarut air. Ekstrak dari LPT dikarakterisasi dengan spetrofotometer Visible untuk mengetahui kandungan fenolik total dan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) untuk mengetahui kandungan senyawa katekin. Jenis mordan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Al2(SO4)3, ZnSO4 sebagai mordan anorganik dan kitosan sebagai mordan organik. Teknik mordating yang digunakan ada tiga, yaitu premordant, metamordant, dan postmordant. Beberapa pengujian yang dilakukan terhadap hasil pewarnaan tekstil yaitu ketuaan warna (K/S), arah warna, ketahanan warna terhadap sinar (SNI ISO 105-B01-2010), ketahanan warna pencucian (SNI ISO-C06-2010), dan ketahanan warna gosokan (SNI ISO 105-X12-2016). Berdasarkan hasil pengujian tersebut, perwarnaan tekstil dengan menggunakan mordan kitosan dan teknik postmordan memiliki nilai ketuaan warna yang paling tinggi dan ketahanan cahaya yang paling baik, dengan nilai kekontrasan sama dengan nilai standar wol nomer 7. Pada pengujian ketahanan luntur warna terhadap pencucian secara umum nilai rata – rata dari penurunan warna dan penodaan warna adalah 3/4 dan 5. Pada pengujian ketahanan luntur gosokan nilai rata – rata dari penodaan warna gosok kering dan basah adalah 4/5 dan 3.