Antraknosa pada buah cabai (Capsicum annuum L) yang dipicu oleh infeksi
Colletotrichum scovillei merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas dan
kuantitas hasil panen. Aplikasi ekstraseluler DNA (exDNA) dapat menjadi strategi
alternatif pengendalian penyakit yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkaji potensi ekstraseluler DNA (exDNA) dalam mengendalikan
antraknosa. ExDNA jamur digunakan untuk mengevaluasi kemampuannya dalam
penghambatan langsung pertumbuhan C. scovillei (self-inhibitory). Tiga sumber
exDNA berbeda, exDNA cabai (self), exDNA jamur (nonself), dan kombinasi
keduanya (cocktail exDNA) digunakan untuk mengevaluasi potensinya dalam
menginduksi respons pertahanan buah cabai.
Uji self-inhibitory dilakukan dengan memberikan exDNA jamur (80, 400, dan 800
ng ?L?¹) pada kultur in-vitro. Hasil menunjukkan bahwa dibutuhkan 800 ng ?L?¹
exDNA jamur untuk menghambat pertumbuhan miselium sebesar 38%
dibandingkan kontrol negatif secara signifikan (p < 0.01). Sedangkan, priming tiga
sumber exDNA berbeda (100 ng ?L?¹) pada buah cabai mampu menekan
perkembangan lesi secara signifikan dibandingkan kontrol (6.85 ± 0.11 cm²) (p <
0.05). Lesi terendah pada 7 dpi (day post inoculation) ditunjukkan pada perlakuan
self exDNA (2.01 ± 0.33 cm²), diikuti dengan nonself exDNA (2.29 ± 0.42 cm²),
dan cocktail exDNA (2.70 ± 0.56 cm²). Uji fisiologis menunjukkan respons buah
cabai terhadap self dan nonself exDNA adalah kapasitas RSA tinggi dan
peningkatan aktivitas peroksidase tinggi. Sedangkan, cocktail exDNA mempunyai
kapasitas RSA tinggi dan aktivitas peroksidase yang lebih rendah. Uji ekspresi gen
dengan qPCR menunjukkan self exDNA mampu mempertahankan ekspresi tinggi
pada CaRLK1, disertai peningkatan sementara (transien) CaERF14 dan CaPR5.
Sebaliknya, perlakuan nonself exDNA menginduksi ekspresi gen CaRLK1 yang
tinggi pada fase priming dan awal infeksi, disertai ekspresi CaERF14 dan CaPR5
yang rendah dibandingkan kontrol air deion dengan inokulasi. Sementara,
perlakuan cocktail exDNA mampu mempertahankan ekspresi CaPR5 tetap tinggi,
disertai peningkatan ekspresi CaRLK1 yang tinggi pada fase priming dan infeksi
lanjut (bifasik). Pola ekspresi gen ini mengindikasikan bahwa self exDNA
cenderung berperan dalam pemeliharaan respons pertahanan (priming
maintenance), nonself exDNA berperan dalam aktivasi pertahanan awal (early
recognition dan defense activation), sedangkan cocktail exDNA
mengkombinasikan kedua pola respons.
Secara keseluruhan, hasil uji menunjukkan bahwa efek proteksi exDNA terhadap
antraknosa kemungkinan besar melibatkan dua mekanisme: priming pertahanan
pada inang dan efek antifungal langsung yang membutuhkan konsentrasi exDNA
lebih tinggi. Perbedaan respons terhadap aplikasi priming exDNA pada buah cabai
menunjukkan bahwa jaringan cabai mampu membedakan sinyal exDNA
berdasarkan sumbernya (self, nonself, dan cocktail). Hasil penelitian ini
memperkuat pemahaman mengenai respons tumbuhan terhadap berbagai sumber
exDNA yang berbeda dan potensinya sebagai elisitor biotik dalam priming
pertahanan sebagai metode alternatif pengendalian antraknosa.
Perpustakaan Digital ITB