BAB 1 - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
DAFTAR PUSTAKA - Daud Mustofa Munief
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Peningkatan penggunaan kendaraan listrik mendorong pertumbuhan pesat
permintaan baterai litium-ion (LIB), namun ketersediaan baterai habis pakai (end-
of-life) belum sepadan sehingga umpan bagi industri daur ulang saat ini masih
didominasi skrap manufaktur dan sel baru. Pergeseran kimia katoda ke arah
kandungan nikel tinggi seperti NCM 811 menggeser nilai ekonomi umpan dari Co-
sentris menjadi Ni- dan Li-sentris, sementara efektivitas daur ulang hidrometalurgi
sangat ditentukan oleh kualitas prapengolahan sebelum pelindian, yakni aspek yang
belum banyak dikaji pada daur ulang NCM 811. Penelitian ini bertujuan
mempelajari pengaruh suhu pirolisis (400–700 °C), urutan tahapan proses
(pirolisis-pencacahan dibandingkan pencacahan-pirolisis), dan atmosfer
pemanasan (pirolisis inert dibandingkan roasting oksidatif) terhadap perolehan
material aktif dan distribusi logam, guna menentukan konfigurasi prapengolahan
optimal untuk meningkatkan efisiensi ekstraksi logam pada pelindian asam.
Empat rute prapengolahan dibandingkan pada sel baterai litium-ion tipe silinder
NMC 811 model INR21700–40T baru, yaitu pencacahan langsung (Rute 1),
pirolisis-pencacahan pada variasi suhu 400–700 °C (Rute 2), pencacahan-pirolisis
pada suhu optimum (Rute 3), dan roasting-pencacahan pada suhu optimum (Rute
4). Material hasil setiap rute diayak, dikarakterisasi unsurnya (Li, Ni, Co, Mn, Cu,
Al), dan dianalisis fasa kristalinnya menggunakan X-ray diffraction (XRD) serta
morfologinya menggunakan scanning electron microscope (SEM), kemudian fraksi
optimumnya diuji melalui pelindian dengan H2SO4 dan H2O2 pada kondisi operasi
tetap untuk mengisolasi pengaruh prapengolahan terhadap persen ekstraksi logam.
Peningkatan suhu pirolisis dari 400 menjadi 700 °C meningkatkan perolehan massa
fraksi halus dari 33,97% menjadi 66,96%, seiring dekomposisi fasa NCM811 dan
pembentukan NiO/CoO pada 500–600 °C serta Ni elemental pada 700 °C.
Perubahan urutan proses (Rute 3) menurunkan perolehan menjadi 49,46%,
sedangkan roasting oksidatif (Rute 4) hanya mencapai 19,10% akibat terbentuknya
fasa solid-state (Li3CuO3, CuMn2O4, Cu0,75Co2,25O4) yang menunjukkan ikatan
material aktif dengan current collector. Rute 2 pada 700 °C terbukti paling optimal,
dengan perolehan massa fraksi -18# tertinggi (66,96%), kadar Li/Ni/Co tinggi
(14,00%/25,28%/3,57%), ekstraksi Li/Ni/Co/Mn di atas 99%, serta ko-ekstraksi Cu
tertekan hingga 38,99% akibat fasa CuAl2O4 yang sukar larut, menghasilkan PLS
yang lebih bersih untuk tahap pemurnian selanjutnya.
Perpustakaan Digital ITB