Kulit pisang merupakan limbah organik bernutrisi tinggi, tetapi pemanfaatannya
sebagai pakan masih terbatas akibat tingginya lignoselulosa. Black Soldier Fly
(BSF) berpotensi mengonversi limbah ini menjadi biomassa bernilai guna, namun
diperlukan pretreatment untuk meningkatkan kualitas substrat. Penelitian ini
bertujuan mengevaluasi pengaruh pretreatment kulit pisang terhadap performa
pertumbuhan, efisiensi biokonversi, dan profil asam lemak larva BSF. Larva BSF
dipelihara pada pakan ayam sebagai kontrol, substrat kulit pisang tanpa fermentasi,
dan substrat kulit pisang yang difermentasi untuk membandingkan respons tiap
perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi meningkatkan
kadar protein substrat kulit pisang sekitar 1–3%, disertai penurunan karbohidrat
sekitar 4–6% dan lemak sekitar 1–2%. Namun, peningkatan kualitas substrat ini
tidak diikuti oleh perbaikan performa larva. Berat larva pada substrat nonfermentasi
sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan substrat fermentasi dan tetap
jauh di bawah kontrol. Pola serupa terlihat pada laju pertumbuhan harian dan
efisiensi biokonversi, di mana nilai ECD_proxy (Efficiency of Conversion of
Digested Food, indikator berbasis sistem), FCR_proxy (Feed Conversion Ratio,
indikator berbasis sistem), dan WRI (Waste Reduction Index) menunjukkan kinerja
terbaik pada perlakuan kontrol, diikuti oleh substrat non-fermentasi, dan terendah
pada perlakuan fermentasi. Meskipun demikian, kelulushidupan larva tetap sangat
tinggi mencapai lebih dari 98% pada seluruh perlakuan. Perkembangan menuju
prepupa berlangsung lebih cepat pada substrat non-fermentasi, sedangkan
fermentasi memperpanjang durasi perkembangan. Profil asam lemak larva
didominasi oleh asam lemak jenuh, dengan peningkatan proporsi asam lemak tak
jenuh pada perlakuan fermentasi. Secara keseluruhan, fermentasi meningkatkan
kandungan protein substrat tetapi menurunkan performa larva dan efisiensi
biokonversi, serta mengubah komposisi asam lemak larva. Temuan ini
menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein akibat fermentasi tidak selalu
meningkatkan nilai ECD_proxy maupun efisiensi biokonversi pada tingkat sistem
pemeliharaan larva BSF. Sebaliknya, ECD_proxy lebih dipengaruhi oleh
ketersediaan energi tercerna bersih dan efisiensi alokasi nutrien pasca-pencernaan
dibandingkan kadar protein absolut substrat, sehingga menantang asumsi umum
mengenai efektivitas pretreatment fermentasi pada limbah berserat tinggi.
Perpustakaan Digital ITB