digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Niko Efendi
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Kulit pisang merupakan limbah organik bernutrisi tinggi, tetapi pemanfaatannya sebagai pakan masih terbatas akibat tingginya lignoselulosa. Black Soldier Fly (BSF) berpotensi mengonversi limbah ini menjadi biomassa bernilai guna, namun diperlukan pretreatment untuk meningkatkan kualitas substrat. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh pretreatment kulit pisang terhadap performa pertumbuhan, efisiensi biokonversi, dan profil asam lemak larva BSF. Larva BSF dipelihara pada pakan ayam sebagai kontrol, substrat kulit pisang tanpa fermentasi, dan substrat kulit pisang yang difermentasi untuk membandingkan respons tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses fermentasi meningkatkan kadar protein substrat kulit pisang sekitar 1–3%, disertai penurunan karbohidrat sekitar 4–6% dan lemak sekitar 1–2%. Namun, peningkatan kualitas substrat ini tidak diikuti oleh perbaikan performa larva. Berat larva pada substrat nonfermentasi sekitar dua kali lebih tinggi dibandingkan substrat fermentasi dan tetap jauh di bawah kontrol. Pola serupa terlihat pada laju pertumbuhan harian dan efisiensi biokonversi, di mana nilai ECD_proxy (Efficiency of Conversion of Digested Food, indikator berbasis sistem), FCR_proxy (Feed Conversion Ratio, indikator berbasis sistem), dan WRI (Waste Reduction Index) menunjukkan kinerja terbaik pada perlakuan kontrol, diikuti oleh substrat non-fermentasi, dan terendah pada perlakuan fermentasi. Meskipun demikian, kelulushidupan larva tetap sangat tinggi mencapai lebih dari 98% pada seluruh perlakuan. Perkembangan menuju prepupa berlangsung lebih cepat pada substrat non-fermentasi, sedangkan fermentasi memperpanjang durasi perkembangan. Profil asam lemak larva didominasi oleh asam lemak jenuh, dengan peningkatan proporsi asam lemak tak jenuh pada perlakuan fermentasi. Secara keseluruhan, fermentasi meningkatkan kandungan protein substrat tetapi menurunkan performa larva dan efisiensi biokonversi, serta mengubah komposisi asam lemak larva. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar protein akibat fermentasi tidak selalu meningkatkan nilai ECD_proxy maupun efisiensi biokonversi pada tingkat sistem pemeliharaan larva BSF. Sebaliknya, ECD_proxy lebih dipengaruhi oleh ketersediaan energi tercerna bersih dan efisiensi alokasi nutrien pasca-pencernaan dibandingkan kadar protein absolut substrat, sehingga menantang asumsi umum mengenai efektivitas pretreatment fermentasi pada limbah berserat tinggi.