Transformasi digital telah mengubah industri ritel di Indonesia, seiring dengan meningkatnya pergeseran perilaku konsumen dari toko fisik ke platform belanja online. Transformasi ini telah meningkatkan persaingan dalam industri ritel dan mendorong perusahaan ritel untuk mengadopsi saluran online, termasuk platform e-commerce, sebagai bagian dari strategi penjualan dan distribusi mereka. Penggunaan saluran digital memungkinkan perusahaan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, meningkatkan aksesibilitas pelanggan, dan merespons perubahan preferensi konsumen dengan lebih cepat. Pada saat yang sama, perusahaan ritel Indonesia menghadapi tekanan yang semakin besar untuk meningkatkan efisiensi persediaan karena ketidakpastian permintaan, fluktuasi daya beli, dan persaingan yang lebih tinggi. Beberapa perusahaan ritel menggunakan platform e-commerce sebagai respons terhadap perubahan kondisi pasar agar tetap kompetitif. Namun, dampak aktual adopsi platform e-commerce terhadap perputaran persediaan masih belum jelas. Studi sebelumnya tentang perputaran persediaan sebagian besar berfokus pada faktor keuangan dan operasional, seperti margin kotor, intensitas modal, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, dan tren waktu, sementara peran adopsi digital hanya mendapat perhatian empiris yang terbatas, terutama di pasar negara berkembang.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh adopsi platform e-commerce dan faktor-faktor lain, seperti margin kotor, intensitas modal, pertumbuhan penjualan, ukuran perusahaan, dan tren waktu terhadap perputaran persediaan di antara perusahaan ritel yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Perputaran persediaan digunakan sebagai indikator utama efisiensi persediaan, karena mencerminkan seberapa efektif perusahaan mengkonversi persediaan menjadi penjualan dari waktu ke waktu. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari data keuangan historis, laporan tahunan, informasi platform ecommerce, berita, dan literatur terkait, yang mencakup 14 perusahaan ritel selama periode 2016 hingga 2024. Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel untuk menangkap perbedaan lintas sektoral antar perusahaan dan variasi dari waktu ke waktu, dengan model efek acak untuk memperkirakan hubungan antara variabel independen dan perputaran persediaan.
Temuan menunjukkan bahwa adopsi e-commerce memiliki pengaruh yang tidak signifikan, menunjukkan bahwa mengadopsi platform e-commerce tidak secara langsung meningkatkan efisiensi persediaan. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa margin kotor memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap perputaran persediaan, sedangkan pertumbuhan penjualan memiliki pengaruh positif yang signifikan. Sementara itu, intensitas modal, ukuran perusahaan, dan tren waktu tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap perputaran persediaan selama periode observasi. Penelitian ini memberikan kebaruan dengan memasukkan adopsi e-commerce dalam model perputaran persediaan, memperluas studi sebelumnya yang lebih berfokus pada faktor keuangan dan operasional. Selain itu, penelitian ini memperluas penelitian persediaan berbasis rasio dengan menunjukkan bahwa adopsi e-commerce saja tidak cukup untuk meningkatkan efisiensi persediaan dan harus didukung oleh kemampuan manajerial dan operasional yang tepat. Secara keseluruhan, temuan ini memberikan bukti empiris baru tentang bagaimana transformasi digital memengaruhi perputaran persediaan di industri ritel Indonesia dan menawarkan wawasan berharga bagi akademisi dan praktisi.
Perpustakaan Digital ITB