digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Masifnya urbanisasi di Kota Bandung memicu fenomena backlog perumahan dan ekspansi permukiman ke dataran rawan banjir. Studi ini bertujuan menganalisis tingkat persepsi risiko masyarakat terhadap banjir, mengidentifikasi faktor atribut perumahan, serta menguji pengaruh keduanya terhadap niat memilih lokasi tinggal di kawasan rawan bencana. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner tertutup dari 288 responden yang berdomisili di Kota Bandung. Metode analisis yang digunakan meliputi statistik deskriptif, Exploratory Factor Analysis (EFA), dan Regresi Linier Berganda Hierarki. Hasil deskriptif menunjukkan persepsi risiko masyarakat berada pada kuadran high unknown risk dan high dread risk, dengan kecemasan utama pada karakteristik banjir baru yang kompleks serta ancaman lintas generasi. Melalui EFA, diekstraksi lima faktor penting atribut perumahan dengan total variansi 69,80%, dimana faktor Kualitas Lingkungan dan Utilitas menjadi pertimbangan paling dominan. Secara simultan, model regresi berpengaruh signifikan terhadap niat pemilihan lokasi dengan kontribusi sebesar 10,4%. Secara parsial, kualitas lingkungan, nilai ekonomis, dan aksesibilitas lokasi berpengaruh negatif signifikan, menandakan bahwa pada kondisi kelayakan ideal, masyarakat rasional akan menolak kawasan banjir. Namun, ditemukan anomali di mana variabel dread risk berpengaruh positif signifikan (B = 0,393; Sig = 0,012). Penemuan ini membuktikan fenomena afeksi heuristik (affect heuristic), di mana desakan kebutuhan aset properti mengesampingkan kalkulasi keselamatan. Masyarakat akhirnya melakukan trade-off spasial dengan mengorbankan keselamatan jangka panjang demi kompensasi finansial berupa harga hunian yang lebih murah.