Masifnya urbanisasi di Kota Bandung memicu fenomena backlog perumahan dan
ekspansi permukiman ke dataran rawan banjir. Studi ini bertujuan menganalisis
tingkat persepsi risiko masyarakat terhadap banjir, mengidentifikasi faktor atribut
perumahan, serta menguji pengaruh keduanya terhadap niat memilih lokasi tinggal
di kawasan rawan bencana. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner tertutup
dari 288 responden yang berdomisili di Kota Bandung. Metode analisis yang
digunakan meliputi statistik deskriptif, Exploratory Factor Analysis (EFA), dan
Regresi Linier Berganda Hierarki. Hasil deskriptif menunjukkan persepsi risiko
masyarakat berada pada kuadran high unknown risk dan high dread risk, dengan
kecemasan utama pada karakteristik banjir baru yang kompleks serta ancaman
lintas generasi. Melalui EFA, diekstraksi lima faktor penting atribut perumahan
dengan total variansi 69,80%, dimana faktor Kualitas Lingkungan dan Utilitas
menjadi pertimbangan paling dominan. Secara simultan, model regresi berpengaruh
signifikan terhadap niat pemilihan lokasi dengan kontribusi sebesar 10,4%. Secara
parsial, kualitas lingkungan, nilai ekonomis, dan aksesibilitas lokasi berpengaruh
negatif signifikan, menandakan bahwa pada kondisi kelayakan ideal, masyarakat
rasional akan menolak kawasan banjir. Namun, ditemukan anomali di mana
variabel dread risk berpengaruh positif signifikan (B = 0,393; Sig = 0,012).
Penemuan ini membuktikan fenomena afeksi heuristik (affect heuristic), di mana
desakan kebutuhan aset properti mengesampingkan kalkulasi keselamatan.
Masyarakat akhirnya melakukan trade-off spasial dengan mengorbankan
keselamatan jangka panjang demi kompensasi finansial berupa harga hunian yang
lebih murah.
Perpustakaan Digital ITB