ABSTRAK Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Devina Agnes Tandojo
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Perubahan iklim menempatkan infrastruktur ketenagalistrikan sebagai salah satu
sektor kritis yang perlu diperkuat ketahanannya, terutama di kawasan pesisir seperti
Jakarta Utara yang menghadapi tekanan banjir rob, curah hujan ekstrem, kenaikan
muka air laut relatif, dan paparan atmosfer laut korosif. Kajian risiko iklim pada
infrastruktur kelistrikan di Indonesia selama ini banyak dilakukan melalui
pendekatan spasial berbasis overlay pada skala wilayah, sementara penilaian pada
tingkat gardu induk masih relatif terbatas, meskipun pendekatan tersebut berpotensi
menangkap tekanan lingkungan kronis yang tidak tersedia sebagai peta bahaya.
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan mendeskripsikan indikasi risiko iklim
serta kapasitas adaptif eksisting pada Gardu Induk Muarakarang Baru dan
Muarakarang Lama melalui lima sasaran, yaitu identifikasi bahaya iklim,
keterpaparan, kerentanan, kapasitas adaptif eksisting, dan sintesis indikasi risiko
beserta penyandingannya dengan kapasitas adaptif.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif-deskriptif dengan desain
multiple-case study pada dua kasus, mengacu pada kerangka IPCC AR6, ISO
14091:2021, dan Draft Climate Resilient Infrastructure Guideline (PLN & ITB,
2025). Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur
dengan operator dan observasi non-partisipan pada 1–2 Juli 2026, diverifikasi
silang dengan data sekunder berupa statistik dan data spasial resmi, dokumen
kebijakan, pemberitaan, serta literatur. Analisis menggunakan analisis tematik
enam fase dengan koding deduktif-induktif, Matriks Kerentanan Kualitatif yang
menyilangkan keterpaparan dan sensitivitas, penilaian kapasitas adaptif lima
dimensi, serta prosedur sintesis risk pathway yang menyandingkan indikasi risiko
dengan efektivitas tindakan adaptasi.
Penelitian menemukan bahwa keberadaan bahaya iklim di kawasan penelitian tidak
dengan sendirinya menghasilkan risiko pada tingkat aset. Dalam periode
pengamatan (2019–2026 untuk Muarakarang Lama dan 2023–2026 untuk
Muarakarang Baru), tidak terdapat satu pun bahaya yang menghasilkan gangguan
penyaluran tenaga listrik pada kedua gardu induk. Indikasi risiko iklim lebih banyakxi
terbentuk melalui bahaya rayapan, yaitu paparan atmosfer laut korosif dan kenaikan
muka air laut relatif, serta melalui lapis objek non-aset fisik, seperti terputusnya
akses akibat rob dan hujan ekstrem pada kompleks Muarakarang Baru,
dibandingkan melalui kejadian ekstrem yang merusak aset fisik secara langsung.
Delapan jalur indikasi risiko teridentifikasi, dengan risiko pada Muarakarang Lama
terkonsentrasi di dalam pagar pada komponen dan tapak, sementara risiko pada
Muarakarang Baru terkonsentrasi di luar pagar pada akses dan pada elemen yang
secara desain dibiarkan terbuka. Kerentanan pada kedua kasus terbentuk oleh
gabungan kecenderungan fisik, operasional, dan kelembagaan, terutama pada
korosi di ketinggian yang berada di luar jangkauan pemeliharaan lokal maupun
kewenangan anggaran unit. Kapasitas adaptif eksisting bersifat nyata dan pada
beberapa titik antisipatif, terutama pada dimensi teknis-operasional, tetapi tidak
berimpit dengan profil risiko. Dari sebelas jalur yang disandingkan dengan
kapasitas adaptif, hanya satu yang mengalami penurunan tingkat risiko, yaitu
melalui migrasi aset ke konfigurasi gas insulated switchgear yang bersifat
transformasional. Dimensi kelembagaan dan finansial dinilai rendah pada kedua
kasus yang mengindikasikan defisit adaptasi terhadap kondisi iklim yang sudah ada.
Penelitian juga menunjukkan bahwa premis umum bahwa lokasi pesisir
menghasilkan keterpaparan tertinggi tidak berlaku otomatis pada tingkat aset,
karena keterpaparan lebih ditentukan oleh relasi antara aset, jalur bahaya, dan
kendali kelembagaan atas struktur perlindungan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa indikasi risiko iklim dan ruang opsi adaptasi
pada tingkat gardu induk merupakan fungsi dari kedudukan aset dalam sistem dan
relasi kelembagaan di sekitarnya, bukan hanya fungsi dari kondisi fisik atau
kompetensi unit pengelola. Temuan ini memiliki implikasi bagi perencanaan
wilayah dan kota, khususnya bahwa perlindungan infrastruktur energi kritis di
kawasan pesisir tidak dapat diperlakukan sebagai persoalan internal pengelola aset,
karena jalur bahaya utama dan struktur penahannya berada pada lahan dan
kewenangan pihak lain. Penelitian ini juga menghasilkan penyesuaian metodologis
atas penerapan pedoman penilaian risiko iklim pada tingkat aset tunggal dengan
ketersediaan data terbatas. Seluruh temuan merupakan indikasi risiko berdasarkan
bukti empiris dan bukan penilaian probabilistik maupun kuantifikasi besaran risiko.
Perpustakaan Digital ITB