Material fotoluminesensi adalah material yang dapat menghasilkan foton dengan energi yang lebih kecil setelah mengabsorbsi foton yang memiliki energi yang lebih besar. Material ini dapat mengubah atau mengontrol gelombang elektromagnetik pada jangkauan daerah sinar ultraviolet (UV), sinar tampak, dan sinar inframerah (IR) menjadi gelombang elektromagnetik dengan frekuensi yang berbeda. Pada umumnya, material fotoluminesensi membutuhkan aktivator untuk menghasilkan pemendaran yang baik. Salah satu material fotoluminesensi yang tidak membutuhkan aktivator untuk menghasilkan luminesensi adalah senyawa Ba2TiSi2O8. Penelitian ini bertujuan untuk menyintesis kristal tunggal Ba2TiSi2O8 dengan menggunakan metode reaksi fasa padat, dilanjutkan dengan perlakuan dalam fluks lelehan garam, serta mempelajari efek fotoluminesensi dari Ba2TiSi2O8 dengan kedua metode tersebut. Pada penelitian ini, lelehan garam yang digunakan adalah campuran garam BaCl2-NaCl dan MnCl2-NaCl sesuai komposisi eutektiknya. Hasil sintesis dari kedua metode dikarakterisasi dengan difraksi sinar-X serbuk (XRPD). Berdasarkan hasil XRPD, perlakuan Ba2TiSi2O8 dalam lelehan garam menghasilkan lebih sedikit pengotor dibandingkan metode sintesis reaksi fasa padat, yang ditunjukkan dari penurunan intensitas puncak difraksi. Pengotor yang dihasilkan pada reaksi fasa padat larut dalam fluks dan dipisahkan dari fasa utama. Pengujian sifat fotoluminesensi Ba2TiSi2O8 dilakukan menggunakan spektroflorometer UV-Vis pada panjang gelombang eksitasi yakni 254 nm (E = 4,8 eV). Hasil analisis fotoluminesensi menunjukkan puncak emisi yang lebar pada panjang gelombang 465–470 nm (E = 2,6 eV) dan puncak eksitasi pada panjang gelombang 252–255 nm (E = 4,8 eV). Perlakuan Ba2TiSi2O8 menggunakan fluks lelehan garam menunjukkan adanya peningkatan intensitas fotoluminesensi pada penambahan jumlah mol lelehan garam yang digunakan. Pengukuran UV-Diffuse Reflectance Spectroscopy (UV-DRS) dan pengolahan data dengan plot Tauc untuk transisi direct-allowed menunjukkan adanya serapan utama pada 5,2 eV. Selain itu, sampel yang diperlakukan dengan fluks lelehan garam menunjukkan adanya band tail pada energi 4,1 eV, yang kemungkinan disebabkan oleh adanya cacat kristal.
Perpustakaan Digital ITB