digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA - Alisya Rosallia
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Biohidrogen merupakan alternatif energi rendah emisi yang dapat dihasilkan melalui aktivitas mikroorganisme pada kondisi fermentasi anaerob. Produksinya dipengaruhi oleh jenis mikroorganisme, kondisi lingkungan, serta unsur yang berperan dalam metabolisme sel. Besi (Fe) berperan dalam sistem enzimatik dan transfer elektron sehingga berpotensi memengaruhi produksi biohidrogen. Penelitian ini bertujuan mempelajari produksi biohidrogen oleh Ectopseudomonas hydrolytica (C1), Methylobacterium radiotolerans (C2), dan Agrobacterium radiobacter (C3), serta mengevaluasi pengaruh penambahan partikel Fe hasil sintesis hijau pada konsentrasi 0, 50, 100, dan 150 ppm. Partikel Fe disintesis menggunakan FeSO4·7H2O dan ekstrak daun kratom (Mitragyna speciosa), kemudian dikarakterisasi menggunakan Atomic Absorption Spectroscopy (AAS), Scanning Electron Microscopy–Energy Dispersive X-ray Spectroscopy (SEM-EDS), dan Particle Size Analyzer (PSA). Evaluasi awal dilakukan terhadap ketiga bakteri tanpa penambahan Fe selama 72 jam, sedangkan percobaan inti menggunakan variasi Fe 0, 50, 100, dan 150 ppm dengan pengamatan setiap 12 jam hingga jam ke-72. Konsentrasi hidrogen dianalisis menggunakan hidrogen meter dan titrasi metilen biru pada fase cair dan gas. Pertumbuhan bakteri dan kondisi fermentasi dievaluasi berdasarkan pH, potensial oksidasi-reduksi (Eh), dan optical density (OD) pada panjang gelombang 600 nm. Sampel A. radiobacter dengan Fe 150 ppm pascafermentasi selanjutnya dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi biohidrogen berbeda antar-isolat serta bergantung pada konsentrasi Fe, metode analisis, dan fase pengukuran. Pada evaluasi awal, konsentrasi hidrogen tertinggi berdasarkan hidrogen meter diperoleh pada C1 sebesar 10.951,5 ppb pada jam ke-24. Berdasarkan titrasi metilen biru pada jam ke-6, konsentrasi tertinggi fase cair diperoleh pada C2 sebesar 809,08 ppb dan fase gas pada C1 sebesar 494,44 ppb. Pada percobaan inti, C3 dengan Fe 100 ppm menghasilkan konsentrasi tertinggi berdasarkan hidrogen meter pada fase cair sebesar 9.886 ppb pada jam ke-60 dan fase gas sebesar 10.577 ppb pada jam ke-72. Berdasarkan titrasi metilen biru, konsentrasi tertinggi fase cair diperoleh pada C1 dengan Fe 150 ppm sebesar 824,06 ppb pada jam ke-48, sedangkan fase gas diperoleh pada C2 dengan Fe 150 ppm sebesar 749,15 ppb pada jam ke-24. Secara keseluruhan, produksi biohidrogen dipengaruhi oleh jenis bakteri, konsentrasi Fe, metode analisis, dan fase pengukuran.