COVER Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Rachel Nathalia Halim
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan
Peningkatan emisi karbon dioksida (CO2) yang mencapai laju dan konsentrasi tertinggi
dalam beberapa dekade terakhir mendorong urgensi pengembangan inovasi teknologi
penangkapan karbon yang lebih efektif. Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah
carbon capture berbasis hayati menggunakan mikroalga, khususnya Chlorella vulgaris,
yang mampu mengonversi CO2 menjadi biomassa bernilai tinggi melalui proses fotosintesis.
Dalam sistem kultur mikroalga, nitrogen dan fosfor merupakan makronutrien esensial yang
berperan penting dalam metabolisme sel. Nitrogen berfungsi sebagai penyusun protein dan
enzim, sedangkan fosfor berperan dalam pembentukan ATP dan NADPH sebagai sumber
energi sel. Pada medium BG-11, NaNO3 dan K2HPO4 merupakan sumber nitrogen dan
fosfor utama, sehingga optimasi komposisi nutrien diperlukan untuk meningkatkan
performa pertumbuhan. Medium BG-11 standar umumnya menggunakan NaNO3 sebesar
1,5 g/L dan K2HPO4 sebesar 0,04 g/L sebagai sumber utama nitrogen dan fosfor. Penelitian
sebelumnya menggunakan konsentrasi NaNO3 pada rentang 1–2,23 g/L dan K2HPO4 pada
rentang 0,020–0,083 g/L untuk mengevaluasi perubahan laju pertumbuhan spesifik pada
rasio N:P yang berbeda. Rentang tersebut digunakan sebagai acuan dalam penentuan batas
bawah, titik tengah, dan batas atas pada desain Box-Behnken, sehingga dapat
merepresentasikan kondisi defisiensi, kondisi standar, dan kondisi kelebihan fosfor untuk
menangkap respons laju pertumbuhan spesifik. Di sisi lain, biochar sebagai photosynthesis
enhancer telah terbukti meningkatkan produktivitas tanaman. Penambahan biochar berbasis
carbon quantum dot (CQD) dengan dosis 2 mg/L berpotensi meningkatkan efisiensi
fotosintesis melalui peningkatan pemanfaatan cahaya dan transfer elektron. Namun,
pemanfaatannya dalam sistem kultur mikroalga masih belum banyak diteliti. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan kondisi optimum konsentrasi K2HPO4 dan biochar terhadap
laju pertumbuhan spesifik serta menentukan prediksi nilai laju pertumbuhan spesifik
tertinggi pada kondisi K2HPO4 dan biochar optimum berdasarkan model matematika.
Penelitian dilakukan menggunakan metode Response Surface Methodology (RSM) dengan
desain Box-Behnken untuk mengevaluasi pengaruh kedua variabel terhadap laju
pertumbuhan spesifik (?). Variabel bebas yang dioptimasi adalah konsentrasi K2HPO4 pada
tiga level, yaitu 0,02; 0,04; dan 0,083 g/L berdasarkan rentang konsentrasi acuan medium
BG-11 dan penelitian sebelumnya, serta biochar pada tiga level, yaitu 0; 2; dan 20 ppm, dengan 0 ppm sebagai kontrol dan batas atas dipilih untuk menangkap titik optimum tanpa
menyebabkan hambatan pertumbuhan akibat konsentrasi berlebih, sedangkan konsentrasi
NaNO3 dijaga konstan pada 1,615 g/L sebagai hold value. Kultivasi C. vulgaris dilakukan
dalam fotobioreaktor tubular vertikal 1 L menggunakan medium BG-11 pada suhu 25–27
°C, fotoperiode terang:gelap 16:8, intensitas cahaya 10.000 lux, aerasi 0,2 vvm, volume
inokulum 10% (v/v), kepadatan inokulum awal 106 sel/mL, dan durasi kultivasi selama 14
hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rentang optimum konsentrasi K2HPO4 sebesar
0,035–0,075 g/L dan biochar sebesar 8–14 ppm menghasilkan laju pertumbuhan spesifik
tertinggi pada percobaan, yaitu lebih dari 0,57 hari?1, pada konsentrasi NaNO3 sebesar 1,615
g/L. Berdasarkan model matematika ? = 0,3531 + 2,98B + 0,0262C ? 25,7B2 ? 0,001177C2
? 0,0084BC, dengan B sebagai konsentrasi K2HPO4 (g/L) dan C sebagai konsentrasi biochar
(ppm), diperoleh prediksi nilai laju pertumbuhan spesifik tertinggi sebesar 0,58 hari?1 pada
konsentrasi K2HPO4 sebesar 0,056 g/L dan biochar sebesar 10,909 ppm, atau meningkat
sebesar 41,5% dibandingkan kondisi acuan BG-11 sebesar 0,41 hari?1. Peningkatan ini
dipengaruhi oleh peran fosfor dalam sintesis ATP serta biochar yang meningkatkan efisiensi
penyerapan foton dan transfer elektron dalam fotosistem, sehingga mempercepat produksi
ATP dan NADPH serta meningkatkan fiksasi karbon.
Perpustakaan Digital ITB