digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Irlo Eldriansha Achmad Fadhilla
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Latihan upright row merupakan gerakan yang efektif untuk hipertrofi otot bahu, namun sering dikaitkan dengan risiko cedera subacromial impingement. Penelitian terdahulu mengenai variasi jarak genggaman hanya mengandalkan data aktivitas elektromiografi tanpa pembuktian kinematika sendi, sehingga batas keamanannya belum terverifikasi secara kuantitatif. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi jarak genggaman terhadap tingkat rekrutmen otot Middle Deltoid, Upper Trapezius, dan Biceps Brachii beserta profil kinematikanya pada sendi bahu dan siku. Penelitian ini melibatkan 15 partisipan pria terlatih yang melakukan gerakan upright row dengan beban statis 70% 1 Repetition Maximum (1RM). Pengujian dilakukan pada tiga variasi genggaman: Close Grip (50% Biacromial Breadth), Normal Grip (100%), dan Wide Grip (200%). Aktivasi otot direkam menggunakan instrumen Surface Electromyography (sEMG), sedangkan data pergerakan direkam dengan sistem 3D Motion Capture OptiTrack. Pengolahan data kinematika dan estimasi gaya otot kemudian divalidasi menggunakan simulasi Static Optimization pada perangkat lunak OpenSim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Wide Grip secara signifikan meningkatkan rata-rata aktivasi Middle Deltoid (105,29% MVC) dan Upper Trapezius (127,51% MVC), sementara aktivitas Biceps Brachii cenderung statis. Analisis kinematika membuktikan bahwa Wide Grip memperluas rentang gerak abduksi bahu, namun puncak sudutnya hanya mencapai 55,59°. Secara klinis, sudut ini terbukti aman karena berada sangat jauh di bawah zona risiko impingement (>90°). Kesimpulannya, pelebaran genggaman hingga 200% lebar bahu merupakan teknik paling efektif untuk memaksimalkan hipertrofi secara aman tanpa memicu risiko cedera sendi.