2026 TSAMARAH AHSANUL HAFIZHAH ABSTRAK
Terbatas Dwi Ary Fuziastuti
» ITB
Terbatas Dwi Ary Fuziastuti
» ITB
Di era digital, penyebaran informasi berlangsung dengan kecepatan yang belum
pernah terjadi sebelumnya. Sebuah aplikasi, lagu, produk, maupun inovasi dapat
memperoleh perhatian masyarakat secara luas hanya dalam waktu singkat, kemudian
secara bertahap kehilangan popularitas. Pola dinamika tersebut dikenal sebagai hit
phenomenon dan berperan penting dalam industri hiburan, pemasaran digital, penyebaran
inovasi, serta pengelolaan media sosial. Namun, perkembangan popularitas
suatu tren sulit diprediksi karena dipengaruhi oleh berbagai gangguan dan ketidakpastian,
seperti perubahan minat masyarakat, pembaruan algoritma platform digital,
maupun berbagai kejadian yang tidak terduga. Kondisi ini menunjukkan bahwa
pendekatan deterministik yang mengasumsikan lintasan popularitas dapat diprediksi
secara pasti belum sepenuhnya mampu merepresentasikan dinamika di dunia nyata.
Penelitian ini mengembangkan model hit phenomenon menggunakan sistem
persamaan diferensial stokastik. Model membagi populasi pengguna media sosial
ke dalam tiga kelompok, yaitu calon pengikut tren, pengikut aktif tren, dan mantan
pengikut tren. Perpindahan antar kelompok dipengaruhi oleh iklan, word-of-mouth,
dan decline of audiences (kebosanan pengikut aktif). Berbeda dari pendekatan
stokastik pada umumnya, penelitian ini menggunakan intensitas gangguan acak
yang berubah secara adaptif mengikuti perkembangan sistem. Akibatnya, semakin
cepat suatu tren menyebar dan melibatkan interaksi masyarakat, semakin besar
pula tingkat gangguan pada model. Parameter model diestimasi menggunakan
data Google Trends pada tiga platform media sosial, yaitu TikTok, Instagram, dan
X/Twitter, kemudian dianalisis melalui simulasi numerik menggunakan metode
Euler–Maruyama.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat gangguan tidak bersifat tetap, melainkan
berubah mengikuti dinamika popularitas. Ketika suatu tren berada pada fase penyebaran
tercepat, ketidakpastian mencapai tingkat tertinggi karena proses bertambahnya
pengikut baru dan berkurangnya pengikut aktif berlangsung secara bersamaan
dengan intensitas yang tinggi. Sebaliknya, ketika popularitas mulai menurun, tingkat fluktuasi turut mengecil. Temuan ini menunjukkan bahwa fenomena yang berada
pada puncak viralitas justru merupakan kondisi yang paling sulit diprediksi sehingga
memerlukan perhatian lebih dalam proses pengambilan keputusan.
Selain mengembangkan model stokastik, penelitian ini juga merancang strategi
kontrol optimal berupa kampanye edukasi untuk mengarahkan popularitas menuju
target tertentu, baik target tetap maupun target yang berubah terhadap waktu.
Kampanye ini diharapkan dapat menekan interaksi antara calon pengikut dan
pengikut aktif yang diwakili oleh mekanisme word-of-mouth. Hasil analisis menunjukkan
bahwa strategi yang paling efisien adalah memberikan intervensi lebih besar
pada tahap awal untuk membangun momentum, kemudian menguranginya secara
bertahap setelah popularitas mendekati target. Pada skenario target tetap, sistem
memerlukan rata-rata intensitas kampanye sekitar 81% dari intensitas maksimum
karena harus terus mengimbangi pengaruh word-of-mouth yang kuat. Sebaliknya,
pada skenario target bergerak, rata-rata intensitas yang dibutuhkan hanya sekitar 35%
karena target meningkat secara bertahap sehingga kebutuhan intervensinya lebih
rendah.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberadaan gangguan dan ketidakpastian
mengubah karakteristik strategi kontrol yang diperlukan. Meskipun model memuat
unsur stokastik, penerapan kontrol umpan balik mampu menjaga rata-rata lintasan
sistem stokastik tetap sangat dekat dengan lintasan sistem deterministik. Kondisi
tersebut dipengaruhi oleh besarnya populasi yang meredam pengaruh relatif
gangguan acak, nilai parameter transisi yang kecil sehingga tidak memicu fluktuasi
ekstrem, serta mekanisme kontrol yang secara berkelanjutan menyesuaikan besarnya
intervensi terhadap kondisi sistem. Sebagai konsekuensinya, sistem stokastik tetap
memerlukan biaya dan intensitas pengendalian yang lebih besar dibandingkan sistem
deterministik untuk mempertahankan tingkat popularitas pada target yang diinginkan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa memasukkan unsur ketidakpastian
ke dalam model tidak hanya menghasilkan representasi matematis yang
lebih realistis, tetapi juga memberikan pemahaman yang lebih baik mengenai
strategi pengelolaan popularitas di lingkungan yang dinamis. Kerangka yang dikembangkan
mengintegrasikan sistem persamaan diferensial stokastik, metode Euler–
Maruyama, serta kontrol optimal stokastik melalui Prinsip Minimum Pontryagin dan
persamaan Hamilton–Jacobi–Bellman. Selain berkontribusi pada pengembangan
matematika terapan, penelitian ini juga menjadi dasar kuantitatif bagi pengambilan
keputusan dalam pemasaran digital, pengelolaan media sosial, penyebaran inovasi,
serta berbagai fenomena sosial yang berkembang di bawah pengaruh gangguan dan
ketidakpastian.
Perpustakaan Digital ITB