Penanganan permukiman kumuh memerlukan dasar spasial yang akurat agar
perencanaan dan penentuan prioritas dapat dilakukan secara tepat sasaran. Pada
penerapan konsep hunian vertikal U-Develop, kebutuhan tersebut belum
sepenuhnya terpenuhi karena belum tersedia satuan analisis kawasan yang
mencerminkan sebaran permukiman kumuh, belum terukurnya tekanan
pembangunan sebagai dasar penentuan prioritas, serta masih terbatasnya data
jumlah kepala keluarga (KK) dan penduduk pada tingkat mikro. Keterbatasan
tersebut menghambat penentuan lokasi dan perhitungan kebutuhan penanganan.
Penelitian ini bertujuan menyusun rangkaian analisis berbasis sains data spasial
untuk menentukan prioritas penanganan dan besaran kependudukan kawasan
permukiman kumuh di Kota Bandung. Unit kawasan dibentuk melalui klasterisasi
kepadatan HDBSCAN berdasarkan sebaran objek bangunan. Tekanan
pembangunan dinilai dengan mengintegrasikan dinamika harga lahan dari data
penilaian KJPP dan perubahan fisik lingkungan terbangun yang diperoleh melalui
segmentasi semantik citra Google Street View menggunakan SegFormer, kemudian
diperingkat menggunakan metode Simple Additive Weighting. Estimasi
kependudukan dilakukan melalui koefisien konversi berbasis building footprint
yang dikalibrasi menggunakan data survei lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya 18 kawasan permukiman kumuh
dengan luas total 5.947,89 ha, dengan K7 sebagai kawasan prioritas tertinggi dan
hasil pemeringkatan yang konsisten berdasarkan uji sensitivitas. Dinamika harga
lahan menjadi penentu utama peringkat prioritas, sedangkan perubahan fisik
lingkungan terbangun berperan sebagai pembeda pada kawasan dengan tipologi
harga lahan yang serupa. Kalibrasi lokal menghasilkan koefisien sebesar 1,196 KK
per bangunan dengan tingkat kesalahan estimasi kurang dari satu persen.
Pendekatan yang dikembangkan berpotensi dimanfaatkan sebagai instrumen
seleksi awal berbasis bukti spasial untuk mendukung penentuan prioritas penerapan
U-Develop.
Perpustakaan Digital ITB