digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 1 Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira


PUSTAKA Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Aulia Rachma
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Penanganan permukiman kumuh memerlukan dasar spasial yang akurat agar perencanaan dan penentuan prioritas dapat dilakukan secara tepat sasaran. Pada penerapan konsep hunian vertikal U-Develop, kebutuhan tersebut belum sepenuhnya terpenuhi karena belum tersedia satuan analisis kawasan yang mencerminkan sebaran permukiman kumuh, belum terukurnya tekanan pembangunan sebagai dasar penentuan prioritas, serta masih terbatasnya data jumlah kepala keluarga (KK) dan penduduk pada tingkat mikro. Keterbatasan tersebut menghambat penentuan lokasi dan perhitungan kebutuhan penanganan. Penelitian ini bertujuan menyusun rangkaian analisis berbasis sains data spasial untuk menentukan prioritas penanganan dan besaran kependudukan kawasan permukiman kumuh di Kota Bandung. Unit kawasan dibentuk melalui klasterisasi kepadatan HDBSCAN berdasarkan sebaran objek bangunan. Tekanan pembangunan dinilai dengan mengintegrasikan dinamika harga lahan dari data penilaian KJPP dan perubahan fisik lingkungan terbangun yang diperoleh melalui segmentasi semantik citra Google Street View menggunakan SegFormer, kemudian diperingkat menggunakan metode Simple Additive Weighting. Estimasi kependudukan dilakukan melalui koefisien konversi berbasis building footprint yang dikalibrasi menggunakan data survei lapangan. Hasil penelitian menunjukkan terbentuknya 18 kawasan permukiman kumuh dengan luas total 5.947,89 ha, dengan K7 sebagai kawasan prioritas tertinggi dan hasil pemeringkatan yang konsisten berdasarkan uji sensitivitas. Dinamika harga lahan menjadi penentu utama peringkat prioritas, sedangkan perubahan fisik lingkungan terbangun berperan sebagai pembeda pada kawasan dengan tipologi harga lahan yang serupa. Kalibrasi lokal menghasilkan koefisien sebesar 1,196 KK per bangunan dengan tingkat kesalahan estimasi kurang dari satu persen. Pendekatan yang dikembangkan berpotensi dimanfaatkan sebagai instrumen seleksi awal berbasis bukti spasial untuk mendukung penentuan prioritas penerapan U-Develop.