Ketimpangan pembangunan menjadi isu strategis dalam dinamika pembangunan di
Provinsi Jawa Barat. Pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi belum diikuti
pemerataan kesejahteraan, yang tercermin dari tingginya nilai rasio gini. Fenomena ini
menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang terjadi kurang berkualitas. Di sisi lain,
wilayah selatan Jawa Barat, meskipun memiliki kinerja ekonomi relatif lebih rendah,
justru menyimpan potensi lingkungan yang besar, terutama dalam kapasitas
penyimpanan dan penyerapan karbon. Kondisi tersebut membuka peluang penerapan
ekonomi hijau melalui internalisasi jasa lingkungan ke dalam sistem ekonomi regional.
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi pola ketimpangan spasial; (2)
mengestimasi potensi nilai ekonomi karbon (NEK); dan (3) mengintegrasikan NEK ke
dalam kerangka PDRB Hijau. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan analisis spasial dan statistik. Identifikasi ketimpangan spasial menggunakan
teknik analisis autokorelasi spasial (Moran’s I dan LISA), estimasi stok karbon
dilakukan melalui pendekatan tutupan lahan berbasis citra dengan menggunakan
software ArcGIS dan InVEST. Perhitungan nilai ekonomi karbon menggunakan dua
skenario harga karbon, yaitu skenario regulatif nasional dan harga pasar karbon
domestik. Integrasi nilai ekonomi karbon ke dalam struktur PDRB konvensional
menghasilkan estimasi PDRB Hijau sebagai indikator ekonomi yang telah
menginternalisasi kontribusi jasa lingkungan karbon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pembangunan wilayah di Provinsi
Jawa Barat membentuk pola spasial yang terstruktur. Berdasarkan hasil pemodelan
InVEST Carbon Storage and Sequestration Model, total stok karbon WP Priangan
Timur–Pangandaran pada tahun 2024 tercatat sebesar 170.037.431,64 ton C atau setara
dengan 624.037.374,12 ton CO?e. selanjutnya konversi stok karbon ke dalam nilai
ekonomi pada skenario konservatif menghasilkan estimasi nilai ekonomi karbon
(NEK) sebesar Rp. 18,72 triliun, sedangkan pada skenario optimistis menjadi Rp.
34,32 triliun. Integrasi nilai ekonomi karbon ke dalam PDRB Hijau menunjukkan
bahwa potensi NEK setara dengan 14,03% dari total PDRB dan meningkat menjadi
25,72% pada skenario optimistis.
Perpustakaan Digital ITB