ABSTRAK Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Dimal Akram Pradana
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kawasan transit Stasiun Bandung berperan sebagai simpul transportasi publik yang
strategis, namun saat ini menghadapi persoalan dalam menyediakan lingkungan
yang ramah pejalan kaki. Penelitian ini bertujuan merumuskan arahan penataan
kawasan transit yang ramah pejalan kaki di Stasiun Bandung–Kebon Kawung–
Pasirkaliki. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan delapan indikator
komponen Walk dan Connect dari ITDP TOD Standard 3.0 dengan analisis
konfigurasional space syntax (segment integration dan segment choice) sebagai
pendekatan komplementer.
Hasil pengukuran menunjukkan ketidakselarasan sistematik kawasan studi.
Komponen Connect mencapai skor agregat 88,89% (kategori sangat baik) yang
menandakan kerangka jaringan permeabel, sementara komponen Walk berada pada
skor 0% yang menandakan defisit menyeluruh kondisi mikro infrastruktur pejalan
kaki. Analisis space syntax mengungkap struktur konfigurasional berupa "bingkai
kotak" empat koridor utama (Pajajaran, Otto Iskandardinata, Kebon Jati–Suniaraja,
dan Pasirkaliki) yang dilengkapi "poros tunggal" Pasirkaliki, serta ketidakselarasan
konfigurasional Stasiun Bandung dengan kerangka utama kawasan.
Sintesis lintas-pendekatan menghasilkan klasifikasi empat kategori peran segmen
sebagai dasar prioritisasi penataan, yaitu Koridor Utama Konfigurasional, Zona
Pengaruh Stasiun, Koridor Penghubung Sekunder, dan Jaringan Kapiler
Permukiman. Penelitian ini memberikan kontribusi metodologis berupa integrasi
pendekatan ITDP TOD Standard dengan space syntax, dan kontribusi substantif
berupa diagnosis kawasan transit kolonial Indonesia: kawasan tidak menderita
ketiadaan modal struktural, melainkan kegagalan mengaktualkan modal yang sudah
tersedia menjadi pengalaman pejalan kaki yang nyata.
Perpustakaan Digital ITB