Generasi Z merupakan segmen populasi dengan tingkat adopsi keuangan digital yang tinggi,
termasuk Pay Later, namun mekanisme penyebaran adopsi layanan tersebut di tingkat individu
serta waktu optimal pemberian promosi belum banyak dikaji menggunakan pendekatan yang
mampu menangkap heterogenitas karakteristik konsumen. Tujuan penelitian ini adalah
menjelaskan bagaimana mekanisme adopsi Pay Later menyebar di kalangan Generasi Z dan kapan
waktu yang tepat bagi penyelenggara layanan untuk memberikan promo. Penelitian ini
menggunakan pendekatan Agent-Based Modelling (ABM) yang dibangun menggunakan perangkat
lunak NetLogo, dengan atribut agen (innovativeness, impulsiveness, threshold, dan spreading
probability) yang didapat dari data wawancara 5 informan pengguna Pay Later dan dikalibrasi
menggunakan data survei dari 40 responden. Populasi simulasi sebesar 400 agen yang dibentuk
melalui bootstrap resampling. Model menerapkan mekanisme threshold yang dikombinasikan
dengan fenomena gatekeeping, dimana kesediaan adopter untuk merekomendasikan layanan
diperlakukan sebagai probabilitas. Hasil simulasi menunjukkan pola difusi berbentuk kurva-S
dengan urutan kecepatan adopsi antar kategori Rogers yang meningkat secara monoton (18,38
hingga 52,77 tick), serta proporsi kategori adopter yang mendekati proporsi teoritis Rogers (2003).
Pada pengujian skenario waktu pemberian promo, promo yang diberikan pada fase awal (tick 1-9)
dan pertengahan (tick 49-57) periode difusi terbukti mempercepat rata-rata waktu adopsi masing
masing menjadi 37,17 dan 37,77 tick, dibandingkan kondisi tanpa promo (38,91 tick). Penelitian ini
menunjukkan bahwa pendekatan ABM mampu menunjukkan pola difusi inovasi yang konsisten
dengan teori yang telah ada, serta memberikan rekomendasi waktu pemberian promosi yang lebih
tepat sasaran bagi penyedia layanan Pay Later.
Kata Kunci: Agent-Based Modelling, Pay Later, Generasi Z, difusi inovasi, NetLogo
Perpustakaan Digital ITB