ABSTRAK Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Fahreza Nurkartika Hapsari
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Urbanisasi di Kota Semarang mendorong perubahan tutupan lahan yang
meningkatkan potensi limpasan permukaan dan risiko banjir pluvial. Meskipun
RTRW berperan mengarahkan perubahan tersebut, implikasi berbagai skenario
kebijakan terhadap kondisi hidrologi wilayah belum banyak dievaluasi. Penelitian
ini bertujuan memodelkan perubahan tutupan lahan berbasis skenario kebijakan
serta mengevaluasi implikasinya terhadap potensi limpasan permukaan di Kota
Semarang. Tiga skenario yang dianalisis meliputi Business-as-Usual (S1), RTRW
Compliant (S2), dan Active Resilience (S3). Penelitian menggunakan data citra
Landsat-8 dan Sentinel-2, data curah hujan CHIRPS, peta Hydrologic Soil Group
(HSG), serta variabel pendorong perubahan tutupan lahan lainnya. Analisis
dilakukan melalui klasifikasi tutupan lahan menggunakan algoritma Random
Forest, pemodelan proyeksi menggunakan metode Cellular Automata–Markov
(CA-Markov), serta estimasi limpasan permukaan menggunakan model InVEST
Urban Flood Risk Mitigation (UFRM) berbasis metode Soil Conservation Service–
Curve Number (SCS-CN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode
2015–2025 luas lahan terbangun meningkat sebesar 2.625,84 ha (7,11%),
sedangkan vegetasi non-pertanian berkurang sebesar 3.281,70 ha (8,89%). Proyeksi
tahun 2030 menunjukkan bahwa S1 menghasilkan ekspansi lahan terbangun
terbesar, S2 mampu mengendalikan perkembangan kawasan sesuai arahan RTRW
dengan mengurangi lahan terbangun sebesar 1.104,04 ha dibandingkan S1,
sedangkan S3 menghasilkan tutupan vegetasi non-pertanian tertinggi sebesar
14.579,80 ha, meningkat 614,62 ha dibandingkan kondisi tahun 2025. Evaluasi
hidrologi menunjukkan bahwa S3 menghasilkan volume limpasan permukaan
terendah dengan penurunan sebesar 1,86% dibandingkan S1. Temuan ini
menunjukkan bahwa kombinasi kebijakan tata ruang dan peningkatan tutupan
vegetasi lebih efektif dibandingkan pembatasan spasial semata, serta dapat menjadi
masukan dalam evaluasi RTRW Kota Semarang menuju pembangunan yang lebih
adaptif terhadap risiko hidrologi.
Perpustakaan Digital ITB