digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) menjadi acuan utama proyeksi penjualan tenaga listrik PT PLN (Persero), namun evaluasi retrospektif terhadap lima edisi RUPTL (2017-2026 hingga 2025-2034) terhadap realisasi penjualan Provinsi Jawa Barat menunjukkan pola ketidakakuratan yang berulang: overestimate persisten pada tiga edisi pertama (rata-rata -21,98% hingga -11,57%), berbalik menjadi underestimate pada edisi 2021-2030 (+5,81%), dan overestimate ringan kembali pada edisi terbaru (-3,80%). Selain itu, RUPTL dan perangkat Simple-E yang mendasarinya hanya memodelkan penjualan pada level empat golongan tarif teragregasi, padahal secara regulasi PLN membedakan penjualan ke dalam delapan segmen tarif yang menunjukkan heterogenitas tren yang tidak tertangkap pada level Total. Penelitian ini membandingkan tiga metode peramalan deret waktu — SARIMA, Holt-Winters, dan Regresi Linear (representasi terkontrol dari Simple-E) — untuk memproyeksikan penjualan tenaga listrik PLN UID Jawa Barat pada level Total dan kedelapan segmen tarif (Sosial, Rumah Tangga, Bisnis, Industri, Publik, Traksi, Curah, dan Khusus) secara independen. Data bulanan Januari 2017/2018-Desember 2025 dibagi menjadi periode pelatihan (hingga Desember 2023) dan periode pengujian out-of-sample (Januari 2024-Desember 2025, 24 bulan), dengan model terbaik per deret data dipilih melalui skema rank-sum atas empat metrik (RMSE, MAE, MAPE, R²). Model terpilih kemudian dilatih ulang pada seluruh data historis untuk menghasilkan proyeksi lima tahun (2025-2029), yang direkonsiliasi melalui strategi bottom-up (penjumlahan proyeksi segmen) dan top-down (proyeksi Total langsung), lalu dibandingkan dengan irisan horizon RUPTL 2025-2034. Hasil penelitian menunjukkan SARIMA unggul untuk Total (MAPE 2,42%), Rumah Tangga (4,53%), Bisnis (2,55%), dan Publik (18,59%), sementara Holt-Winters unggul untuk Sosial (3,60%), Industri (5,07%), Traksi (20,37%), dan Khusus (21,78%); segmen Curah tidak dapat disimpulkan karena histori realisasinya yang nyaris nol hingga 2023. Regresi Linear tidak pernah terpilih sebagai model terbaik pada satu pun dari sembilan deret data, dengan R² negatif pada mayoritas segmen. Parameter dan orde optimal terbukti bervariasi antar-segmen, bukan seragam. Strategi bottom-up secara konsisten menghasilkan proyeksi yang lebih dekat dengan RUPTL dibandingkan top-down pada seluruh horizon 2025-2029 (selisih 5,33%-24,80% berbanding 7,70%-25,94%), meskipun keduanya tetap berada di bawah RUPTL pada seluruh tahun pembanding. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemilihan metode dan strategi agregasi yang disesuaikan per segmen tarif berpotensi meningkatkan akurasi peramalan dibandingkan pendekatan seragam pada level Total, sebagai masukan tambahan bagi PLN dalam penyusunan RUPTL dan perencanaan RJPP/RKAP.