Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK) merupakan habitat penting bagi berbagai spesies primata di Jawa Barat yang saat ini menghadapi tekanan akibat perubahan tutupan lahan, perambahan, fragmentasi habitat, dan aktivitas manusia. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kualitas habitat sehingga diperlukan informasi mengenai distribusi habitat yang sesuai sebagai dasar pengelolaan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian habitat tiga spesies primata, yaitu Trachypithecus auratus, Presbytis comata, dan Macaca fascicularis, di Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBGMK), mengidentifikasi preferensi habitat masing-masing spesies berdasarkan variabel lingkungan yang berpengaruh, serta menganalisis tingkat tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies. Kawasan ini merupakan salah satu habitat penting bagi keanekaragaman hayati di Jawa Barat yang menghadapi tekanan akibat perubahan penggunaan lahan dan aktivitas antropogenik. Oleh karena itu, pemahaman mengenai distribusi habitat potensial dan tumpang tindih habitat antarspesies menjadi input penting dalam perencanaan konservasi yang efektif dan berkelanjutan. Pemodelan kesesuaian habitat dilakukan menggunakan Maximum Entropy (MaxEnt), yang merupakan metode berbasis machine learning dan dirancang untuk menggunakan data kehadiran spesies saja (presence only) sebagai variabel distribusi. Penelitian ini menggunakan kombinasi berbagai variabel lingkungan yang diduga memengaruhi distribusi spesies, meliputi faktor topografi (elevasi dan kemiringan lereng), tutupan lahan, serta jarak terhadap fitur antropogenik seperti kebun dan pemukiman. Seluruh variabel lingkungan diproses dalam format raster dengan resolusi spasial yang seragam untuk memastikan konsistensi analisis. Evaluasi performa model dilakukan menggunakan nilai Area Under the Curve (AUC) dari kurva Receiver Operating Characteristic (ROC), yang umum digunakan untuk menilai akurasi prediksi model distribusi spesies. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa model MaxEnt memiliki kinerja yang baik dalam memprediksi distribusi habitat potensial ketiga spesies primata. Nilai AUC yang diperoleh masing-masing sebesar 0,842 untuk Trachypithecus auratus, 0,773 untuk Presbytis comata, dan 0,826 untuk Macaca fascicularis, yang mengindikasikan tingkat akurasi model berada dalam kategori sedang hingga baik. Perbedaan nilai AUC antarspesies mencerminkan variasi kompleksitas relung ekologis serta sensitivitas masing-masing spesies terhadap perubahan kondisi lingkungan. Selain itu, kontribusi variabel lingkungan terhadap model menunjukkan adanya perbedaan preferensi habitat pada setiap spesies, yang berkaitan dengan karakteristik ekologis dan perilaku masing-masing. Distribusi spasial kesesuaian habitat menunjukkan bahwa area dengan nilai kesesuaian tinggi tersebar secara tidak merata di dalam kawasan penelitian. Trachypithecus auratus dan Presbytis comata cenderung memiliki distribusi habitat yang lebih terkonsentrasi pada area dengan kondisi hutan yang relatif baik dan minim gangguan,
sedangkan Macaca fascicularis menunjukkan distribusi yang lebih luas dan mampu menempati area dengan tingkat gangguan yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa Macaca fascicularis memiliki toleransi ekologis yang lebih tinggi dibandingkan dengan dua spesies lainnya. Analisis tumpang tindih (overlap) habitat antarspesies menunjukkan adanya variasi tingkat kesamaan preferensi habitat. Tumpang tindih yang relatif tinggi ditemukan antara Trachypithecus auratus dan Presbytis comata, yang mengindikasikan adanya kesamaan dalam preferensi habitat serta potensi interaksi dalam pemanfaatan sumber daya. Di sisi lain, tumpang tindih antara kedua spesies tersebut dengan Macaca fascicularis cenderung lebih rendah, yang mencerminkan perbedaan dalam strategi adaptasi terhadap lingkungan. Pola ini mengindikasikan adanya mekanisme pembagian relung (niche partitioning) yang memungkinkan ketiga spesies untuk hidup berdampingan dalam satu lanskap tanpa terjadi kompetisi yang berlebihan. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan pentingnya menjaga heterogenitas habitat dalam mendukung keberlangsungan berbagai spesies primata di kawasan konservasi. Area dengan tingkat kesesuaian habitat tinggi serta memiliki nilai tumpang tindih antarspesies yang signifikan perlu menjadi prioritas dalam pengelolaan kawasan, karena berperan penting dalam mempertahankan keanekaragaman hayati. Selain itu, keberadaan area dengan tekanan antropogenik yang tinggi juga perlu mendapatkan perhatian khusus dalam upaya mitigasi dampak terhadap habitat satwa. Penelitian ini memberikan kontribusi ilmiah dalam pengembangan pendekatan pemodelan distribusi spesies berbasis spasial, khususnya dalam konteks konservasi primata di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB