digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Agenda elektrifikasi di kawasan Indonesia timur memberikan tekanan besar pada sistem ketenagalistrikan terisolasi. Sub-sistem Tambora di Nusa Tenggara Barat mencatat cadangan operasional hanya 0,8% pada 2024 dan 1,4% pada 2025, sehingga PLTMG Sumbawa 3 (50 MW) yang diamanatkan dalam RUPTL 2025 2034 menjadi kebutuhan operasional. Situation Appraisal dan Problem Analysis Is/Is Not Kepner-Tregoe mengisolasi akar permasalahan: metodologi evaluasi Kelayakan Keuangan (KKF) PLN hanya mengandalkan model Discounted Cash Flow (DCF) satu titik dengan asumsi tetap dan tidak mampu mencerminkan risiko probabilistik investasi berbahan bakar LNG. Model kelayakan berbasis risiko kemudian dibangun melalui kerangka tiga tingkat: analisis DCF deterministik yang menghitung NPV, IRR, BCR, dan Payback Period terhadap WACC PLN sebesar 7,38%; analisis sensitivitas; serta simulasi Monte Carlo 10.000 iterasi pada Oracle Crystal Ball, di mana harga LNG, nilai tukar IDR/USD, harga HSD, dan biaya O&M dimodelkan dengan distribusi empiris dari data JISDOR Bank Indonesia dan harga LNG historis. Baseline DCF deterministik menghasilkan NPV positif IDR 276,85 miliar, IRR 9,13%, BCR 1,03, dan Payback Period 10,14 tahun, dengan selisih IRR–WACC hanya 1,75 poin. Analisis stokastik menata ulang hasil ini: probabilitas NPV negatif mencapai 82,08%, dengan median NPV (P50) negatif IDR 1,42 triliun dan Value at Risk 95% sebesar IDR 4,05 triliun. Nilai tukar IDR/USD mendominasi varians NPV (59,6%), diikuti harga LNG (40,3%). Proyek yang layak secara deterministik dengan demikian memiliki probabilitas 82,08% untuk merusak nilai, suatu hal yang tidak terlihat pada evaluasi DCF satu titik. Tesis ini merekomendasikan melanjutkan proyek atas dasar kebutuhan operasional, dengan syarat price collar LNG mendekati 21,97 USD/MMBTU, percepatan gasifikasi, dan lindung nilai FX melalui tarif berindeks USD, serta revisi panduan KKP/KKF untuk mewajibkan simulasi Monte Carlo, NPV P50 positif, dan pengungkapan tornado chart, sehingga mengubah analisis kelayakan dari penilaian biner menjadi profil risiko terkuantifikasi.