digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2026 TAHIRA ALIYYA ABSTRAK
PUBLIC Open In Flipbook Dwi Ary Fuziastuti

Halusinasi auditori merupakan gejala psikotik yang ditandai oleh persepsi suara tanpa adanya stimulus eksternal dan umum dijumpai pada individu dengan gangguan psikologis. Gangguan dinamika neural seperti ketidakseimbangan eksitatori– inhibitori dan hipersinkronisasi pada korteks auditori merupakan karakteristik utama fenomena ini. Selain itu, gangguan konektivitas turut berperan sebagai pemicu munculnya halusinasi auditori. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan memahami dinamika neural pada halusinasi auditori menggunakan kerangka utama model Wilson–Cowan dan model Kuramoto. Model diintegrasikan pada jaringan global dan lokal, serta mempertimbangkan modulasi konektivitas wEE akibat faktor internal otak dan stres aktivitas kognitif pada area auditori maupun Broca. Analisis bifurkasi digunakan untuk mengkaji transisi sistem dari kondisi stabil menuju hiperaktivitas yang berkaitan dengan kemunculan transien sinkronisasi. Sementara itu, analisis sensitivitas parameter dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam menggeser sistem menuju kondisi patologis. Hasil menunjukkan bahwa dinamika yang menyerupai halusinasi auditori dapat muncul akibat interaksi kompleks antara mekanisme eksitasi, sinkronisasi, dan konektivitas jaringan. Pengaruh parameter bervariasi bergantung pada kondisi sistem. Pada individu dengan riwayat ringan, penghentian stres segera setelah episode kognitif internal dimulai dapat mencegah munculnya fenomena tersebut. Selain itu, pada model jaringan lokal terbentuk kluster patologis sinkronisasi transien ketika konektivitas bergeser dari keadaan normal. Temuan ini mengindikasikan bahwa baik aktivitas eksitatori maupun sinkronisasi berperan penting dalam memunculkan dinamika patologis terkait dengan halusinasi auditori.