Halusinasi auditori merupakan gejala psikotik yang ditandai oleh persepsi suara
tanpa adanya stimulus eksternal dan umum dijumpai pada individu dengan gangguan
psikologis. Gangguan dinamika neural seperti ketidakseimbangan eksitatori–
inhibitori dan hipersinkronisasi pada korteks auditori merupakan karakteristik
utama fenomena ini. Selain itu, gangguan konektivitas turut berperan sebagai pemicu
munculnya halusinasi auditori. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan dan
memahami dinamika neural pada halusinasi auditori menggunakan kerangka utama
model Wilson–Cowan dan model Kuramoto. Model diintegrasikan pada jaringan
global dan lokal, serta mempertimbangkan modulasi konektivitas wEE akibat faktor
internal otak dan stres aktivitas kognitif pada area auditori maupun Broca. Analisis
bifurkasi digunakan untuk mengkaji transisi sistem dari kondisi stabil menuju hiperaktivitas
yang berkaitan dengan kemunculan transien sinkronisasi. Sementara itu,
analisis sensitivitas parameter dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang
berperan dalam menggeser sistem menuju kondisi patologis. Hasil menunjukkan
bahwa dinamika yang menyerupai halusinasi auditori dapat muncul akibat interaksi
kompleks antara mekanisme eksitasi, sinkronisasi, dan konektivitas jaringan. Pengaruh
parameter bervariasi bergantung pada kondisi sistem. Pada individu dengan
riwayat ringan, penghentian stres segera setelah episode kognitif internal dimulai
dapat mencegah munculnya fenomena tersebut. Selain itu, pada model jaringan
lokal terbentuk kluster patologis sinkronisasi transien ketika konektivitas bergeser
dari keadaan normal. Temuan ini mengindikasikan bahwa baik aktivitas eksitatori
maupun sinkronisasi berperan penting dalam memunculkan dinamika patologis
terkait dengan halusinasi auditori.
Perpustakaan Digital ITB