Pertumbuhan e-commerce di Indonesia menjadikan tahap last-mile delivery
menyumbang hingga 53 persen dari keseluruhan biaya pengiriman, sementara
evaluasi kesesuaian spasial antara potensi permintaan dan aksesibilitas fasilitas
ekspedisi eksisting pada skala intrakota masih terbatas. Keterbatasan ini terutama
disebabkan oleh sifat tertutup data operasional perusahaan ekspedisi, seperti
volume paket, kapasitas fasilitas, dan wilayah kerja kurir, sehingga diperlukan
pendekatan proksi berbasis data terbuka. Penelitian ini bertujuan menganalisis
kesesuaian spasial antara Demand Potential Index (DPI) dan aksesibilitas fasilitas
last-mile delivery aktual untuk mengidentifikasi kesenjangan pelayanan serta
wilayah prioritas di Kota Bandung, dengan objek jaringan JNE, J&T Express, dan
SiCepat. Analisis dilakukan pada 19.806 grid heksagonal beresolusi 100×100 meter
untuk menghindari bias. DPI dibentuk dari penggabungan estimasi penduduk hasil
pemetaan dasymetric dan jumlah point of interest (POI) komersial dengan bobot
setara 0,50:0,50, yang dipilih setelah uji sensitivitas menunjukkan kestabilan
tertinggi dengan rata-rata korelasi Spearman 0,9791. Fasilitas ekspedisi
diklasifikasikan secara hierarkis ke dalam empat tingkat fungsional melalui
verifikasi visual berbasis Google Street View, dengan Customer Access Point (L1)
dan Local Delivery Station (L2) digunakan dalam perhitungan Indeks
Keterjangkauan Fasilitas (IKF). IKF dihitung dari jarak jaringan jalan terpendek
menggunakan algoritma Dijkstra dan fungsi peluruhan eksponensial dengan
parameter 500 meter untuk L1 dan 5.000 meter untuk L2, digabungkan dengan
bobot 0,30:0,70. Hasil penelitian pada nalisis choropleth bivariat 3×3 mengungkap
bahwa 58,15 persen grid berpotensi permintaan tinggi masih berada pada kelas
aksesibilitas rendah hingga sedang. Klasifikasi prioritas menetapkan 1.449 grid
sekitar 7,32 persen sebagai Prioritas 1 dan 4.305 grid sekitar 21,74 persen sebagai
Prioritas 2, dengan konsentrasi kesenjangan tertinggi di Kecamatan Bandung
Kulon. Pola kesenjangan bersifat terfragmentasi dan tidak membentuk zona
administratif yang seragam, menegaskan pentingnya unit analisis mikro dalam
evaluasi pelayanan logistik perkotaan.
Perpustakaan Digital ITB