digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 2 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 3 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 4 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 5 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

BAB 6 Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

PUSTAKA Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

LAMPIRAN Siti Khoriah
PUBLIC Open In Flipbook Yoninur Almira

Pertumbuhan e-commerce di Indonesia menjadikan tahap last-mile delivery menyumbang hingga 53 persen dari keseluruhan biaya pengiriman, sementara evaluasi kesesuaian spasial antara potensi permintaan dan aksesibilitas fasilitas ekspedisi eksisting pada skala intrakota masih terbatas. Keterbatasan ini terutama disebabkan oleh sifat tertutup data operasional perusahaan ekspedisi, seperti volume paket, kapasitas fasilitas, dan wilayah kerja kurir, sehingga diperlukan pendekatan proksi berbasis data terbuka. Penelitian ini bertujuan menganalisis kesesuaian spasial antara Demand Potential Index (DPI) dan aksesibilitas fasilitas last-mile delivery aktual untuk mengidentifikasi kesenjangan pelayanan serta wilayah prioritas di Kota Bandung, dengan objek jaringan JNE, J&T Express, dan SiCepat. Analisis dilakukan pada 19.806 grid heksagonal beresolusi 100×100 meter untuk menghindari bias. DPI dibentuk dari penggabungan estimasi penduduk hasil pemetaan dasymetric dan jumlah point of interest (POI) komersial dengan bobot setara 0,50:0,50, yang dipilih setelah uji sensitivitas menunjukkan kestabilan tertinggi dengan rata-rata korelasi Spearman 0,9791. Fasilitas ekspedisi diklasifikasikan secara hierarkis ke dalam empat tingkat fungsional melalui verifikasi visual berbasis Google Street View, dengan Customer Access Point (L1) dan Local Delivery Station (L2) digunakan dalam perhitungan Indeks Keterjangkauan Fasilitas (IKF). IKF dihitung dari jarak jaringan jalan terpendek menggunakan algoritma Dijkstra dan fungsi peluruhan eksponensial dengan parameter 500 meter untuk L1 dan 5.000 meter untuk L2, digabungkan dengan bobot 0,30:0,70. Hasil penelitian pada nalisis choropleth bivariat 3×3 mengungkap bahwa 58,15 persen grid berpotensi permintaan tinggi masih berada pada kelas aksesibilitas rendah hingga sedang. Klasifikasi prioritas menetapkan 1.449 grid sekitar 7,32 persen sebagai Prioritas 1 dan 4.305 grid sekitar 21,74 persen sebagai Prioritas 2, dengan konsentrasi kesenjangan tertinggi di Kecamatan Bandung Kulon. Pola kesenjangan bersifat terfragmentasi dan tidak membentuk zona administratif yang seragam, menegaskan pentingnya unit analisis mikro dalam evaluasi pelayanan logistik perkotaan.