Pertumbuhan lalu lintas memengaruhi laju penurunan kondisi perkerasan dan kebutuhan pemeliharaan jalan. Namun, IRMS V.3 sebagai pavement management system yang digunakan dalam pengelolaan jalan nasional di Indonesia masih menggunakan faktor pertumbuhan lalu lintas konstan. Pendekatan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan perubahan pola pergerakan akibat pembangunan jaringan jalan baru. Penelitian ini bertujuan membandingkan prediksi kondisi perkerasan dan kebutuhan biaya pemeliharaan berdasarkan pertumbuhan lalu lintas konstan MDP 2024 dengan volume lalu lintas hasil pembebanan jaringan jalan.
Analisis dilakukan pada ruas Jalan Lingkar Cianjur, Batas Kota Cianjur–Citarum, dan Jalan Raya Rajamandala untuk periode 2026–2035. Proyeksi lalu lintas dinamis diperoleh melalui pemodelan jaringan menggunakan PTV VISUM dengan mempertimbangkan pembangunan Jalan Tol Bocimi, Sukabumi–Ciranjang, dan Ciranjang–Padalarang. Hasil proyeksi kemudian digunakan sebagai input IRMS V.3 untuk memprediksi nilai IRI, kebutuhan penanganan, dan biaya pemeliharaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume lalu lintas hasil pembebanan jaringan lebih mampu menggambarkan kondisi aktual karena mempertimbangkan perpindahan arus kendaraan ke jalan tol. Pada ruas yang mengalami pengalihan arus, peningkatan IRI menjadi lebih lambat dibandingkan skenario pertumbuhan lalu lintas konstan. Perbedaan proyeksi lalu lintas juga memengaruhi waktu, jenis, dan biaya penanganan. Total kebutuhan biaya pemeliharaan pada skenario unconstrain pada pertumbuhan lalu lintas konstan sebesar Rp114,65 miliar, sedangkan pada pembebanan jaringan sebesar Rp68,10 miliar. Pendekatan pembebanan jaringan menghasilkan penghematan sebesar Rp46,55 miliar atau 40,61%.
Perpustakaan Digital ITB