digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Data lendutan Falling Weight Deflectometer (FWD) dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi struktural perkerasan melalui parameter lengkung lendutan (deflection bowl). Namun, perbedaan parameter, nilai ambang, dan sistem klasifikasi dapat menghasilkan interpretasi kondisi yang berbeda meskipun menggunakan data lendutan yang sama. Penelitian ini bertujuan membandingkan hasil evaluasi kondisi perkerasan berdasarkan pendekatan yang mengacu pada Horak (2008) dan kerangka evaluasi serta penanganan yang mengacu pada Chang dkk. (2014), serta menganalisis implikasi perbedaan tersebut terhadap tingkat penanganan. Penelitian dilakukan pada Ruas Jalan Nasional 010 Batas Kota Solok–Batas Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menggunakan data sekunder tahun 2024. Setelah sinkronisasi berdasarkan arah dan stationing, diperoleh 34 titik FWD. Pendekatan Horak (2008) menggunakan parameter D0, Radius of Curvature (RoC), Base Layer Index (BLI), Middle Layer Index (MLI), dan Lower Layer Index (LLI). Pada kerangka evaluasi lainnya digunakan Surface Curvature Index (SCI), Base Curvature Index (BCI), dan ????60, sedangkan penentuan tingkat penanganan mengacu pada kerangka Chang dkk. (2014). Perbandingan klasifikasi difokuskan pada pasangan BLI–SCI dan LLI–BCI menggunakan korelasi Spearman berdasarkan kategori kondisi. Hubungan IRI dengan BLI/SCI juga dianalisis untuk melihat keterkaitan antara ketidakrataan permukaan dan respons struktural pada zona dekat pusat pembebanan, sedangkan PCI dan kerusakan permukaan digunakan sebagai informasi pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah posisi sensor dan satuan disesuaikan, BLI dan SCI sama-sama menggunakan selisih lendutan D0–D300, sedangkan LLI dan BCI menggunakan D600–D900. Meskipun mempunyai nilai numerik yang sama, kategori kondisi yang dihasilkan dapat berbeda karena kedua sistem menggunakan nilai ambang dan jumlah kategori yang berbeda. Korelasi kategori BLI–SCI menghasilkan koefisien Spearman sebesar 0,879 dan LLI–BCI sebesar 0,746 dengan ????<0,001, yang menunjukkan hubungan ordinal yang kuat dan signifikan. Sebaliknya, hubungan antara IRI dan BLI/SCI sangat lemah dan tidak signifikan (????????,=,0,099 ????=0576), yang menunjukkan bahwa ketidakrataan permukaan tidak selalu sejalan dengan respons struktural pada zona dekat pusat pembebanan. Dari 34 titik yang dianalisis, 17 titik (50,00%) menghasilkan tingkat intervensi yang sama, 16 titik (47,06%) menunjukkan tingkat intervensi berdasarkan kerangka Chang dkk. (2014) lebih tinggi, dan 1 titik (2,94%) menunjukkan tingkat intervensi berdasarkan pendekatan Horak (2008) lebih tinggi.