digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Peningkatan vertikalisasi ruang perkotaan menimbulkan tantangan mendasar bagi sistem kadaster fiskal dua dimensi karena sistem tersebut belum mampu merepresentasikan variasi nilai pada ruang atas tanah, ruang permukaan, dan ruang bawah tanah. Penelitian ini bertujuan membangun model penilaian ruang untuk Gambar III.2 implementasi kadaster fiskal 3D melalui integrasi Analytical Hierarchy Process (AHP), pendekatan hedonic pricing, dan representasi spasial berbasis ruang. AHP digunakan untuk menyusun prioritas konseptual terhadap 26 sub-parameter yang dikelompokkan ke dalam empat kriteria utama, yaitu lokasi, risiko bencana, kualitas lingkungan, dan atribut struktural. Penilaian ahli disintesis secara gabungan dengan tingkat konsistensi yang sangat baik (overall inconsistency = 0,01). Validasi empiris dilakukan melalui regresi linier berganda terhadap 407 sampel tanah dan bangunan di Kota Bandung. Hasil AHP menunjukkan bahwa kriteria lokasi memperoleh prioritas konseptual tertinggi dalam kerangka Kadaster Fiskal 3D. Namun, hasil regresi menunjukkan bahwa variabel fisik bangunan, khususnya luas bangunan, merupakan determinan empiris paling dominan terhadap harga tanah pada wilayah kajian. Dengan demikian, dominasi lokasi dipahami sebagai hasil pembobotan ahli pada tahap konseptual, sedangkan dominasi luas bangunan merupakan temuan validasi pasar pada tahap empiris. Model regresi menunjukkan daya jelaskan yang kuat (Adjusted R² = 0,952; p < 0,001), tetapi hasil tersebut tetap ditafsirkan secara kritis dengan mempertimbangkan potensi overfitting, karakteristik spasial Kota Bandung, dan keterbatasan generalisasi nasional. Temuan ini menegaskan kontribusi konseptual berupa pergeseran dari parcel-based fiscal cadastre menuju space-based fiscal cadastre. Secara metodologis, penelitian ini mengintegrasikan pembobotan ahli, validasi pasar, dan pemodelan ruang 3D sebagai dasar pengembangan sistem kadaster fiskal yang lebih adil, akurat, dan adaptif terhadap kompleksitas perkotaan Indonesia. Model yang dihasilkan tidak menempatkan satu variabel sebagai penentu tunggal, melainkan membedakan peran parameter konseptual, parameter empiris, dan struktur representasi ruang dalam membangun penilaian fiskal berbasis ruang 3D.