Kawasan Cagar Budaya di koridor Braga dan Asia Afrika merupakan identitas
sejarah utama Kota Bandung yang saat ini menghadapi tekanan pembangunan yang
sangat tinggi. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah ketiadaan pedoman
operasional yang konsisten bagi Bangunan Noncagar Budaya (BNCB), yang
mengakibatkan munculnya anomali morfologi berupa ketidakkonsistenan garis
sempadan bangunan dan dominasi visual bangunan masif yang mendegradasi
karakter kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pedoman
pembangunan BNCB yang kontekstual dan aplikatif bagi Pusat Kota Lama
Bandung. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptifeksploratori dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan periode
2025-2026, wawancara mendalam dengan narasumber dari dinas terkait dan Tim
Ahli Cagar Budaya (TACB), serta studi komparatif preseden internasional. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa di Koridor Braga, konsistensi ruko 2-3 lantai dan
garis sempadan bangunan (GSB) nol meter tetap terjaga namun terancam oleh
intensitas pembangunan tinggi dari regulasi zonasi. Sementara itu, Koridor Asia
Afrika terfragmentasi menjadi dua karakteristik: Segmen 1 menghadapi ancaman
dominasi visual menara tinggi yang memerlukan intervensi sistem podium empat
lantai, sedangkan Segmen 2 mengalami ambivalensi morfologi akibat kebijakan
parkir depan (setback) masa lalu yang memutus kontinuitas dinding jalan
monumental. Kesimpulan penelitian ini merumuskan pedoman pembangunan
BNCB melalui mekanisme pengendalian “Dual-Gate Permit” mengintegrasikan
aspek administratif zonasi dengan audit sensitivitas desain oleh TACB. Pedoman
ini menetapkan kewajiban pengembalian GSB nol meter secara mutlak, penerapan
sistem podium dan desain step-back, serta penggunaan prinsip "To the Present"
dengan transparansi kaca lantai dasar lebih dari 70% guna menjamin kualitas ruang
publik pejalan kaki di kawasan bersejara.
Perpustakaan Digital ITB