digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kawasan Cagar Budaya di koridor Braga dan Asia Afrika merupakan identitas sejarah utama Kota Bandung yang saat ini menghadapi tekanan pembangunan yang sangat tinggi. Persoalan utama dalam penelitian ini adalah ketiadaan pedoman operasional yang konsisten bagi Bangunan Noncagar Budaya (BNCB), yang mengakibatkan munculnya anomali morfologi berupa ketidakkonsistenan garis sempadan bangunan dan dominasi visual bangunan masif yang mendegradasi karakter kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan pedoman pembangunan BNCB yang kontekstual dan aplikatif bagi Pusat Kota Lama Bandung. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptifeksploratori dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan periode 2025-2026, wawancara mendalam dengan narasumber dari dinas terkait dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB), serta studi komparatif preseden internasional. Temuan penelitian menunjukkan bahwa di Koridor Braga, konsistensi ruko 2-3 lantai dan garis sempadan bangunan (GSB) nol meter tetap terjaga namun terancam oleh intensitas pembangunan tinggi dari regulasi zonasi. Sementara itu, Koridor Asia Afrika terfragmentasi menjadi dua karakteristik: Segmen 1 menghadapi ancaman dominasi visual menara tinggi yang memerlukan intervensi sistem podium empat lantai, sedangkan Segmen 2 mengalami ambivalensi morfologi akibat kebijakan parkir depan (setback) masa lalu yang memutus kontinuitas dinding jalan monumental. Kesimpulan penelitian ini merumuskan pedoman pembangunan BNCB melalui mekanisme pengendalian “Dual-Gate Permit” mengintegrasikan aspek administratif zonasi dengan audit sensitivitas desain oleh TACB. Pedoman ini menetapkan kewajiban pengembalian GSB nol meter secara mutlak, penerapan sistem podium dan desain step-back, serta penggunaan prinsip "To the Present" dengan transparansi kaca lantai dasar lebih dari 70% guna menjamin kualitas ruang publik pejalan kaki di kawasan bersejara.