Munculnya AI Agentik menjanjikan akan adanya kelepasan potensi penuh yang tadinya diharapkan perusahaan dapat realisasikan dengan Generatif AI. Namun, adopsinya masih terbatas dengan tingkat keberhasilan penerapan produksi dan realisasi nilai yang rendah meskipun mendapatkan dukungan eksekutif yang kuat dan investasi yang substansial. Studi ini mengeksplorasi mengapa kesenjangan ini ada di dalam industri perangkat lunak Indonesia. Kami menggabungkan wawancara dari 16 peserta, fokus diskusi kelompok, dan survei terhadap 100 praktisi industri. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun peserta umumnya percaya AI Agentik bermanfaat, mereka memiliki kepercayaan yang sangat rendah dalam mendelegasikan tugas atau membiarkan AI Agentik beroperasi secara otonom tanpa pengawasan manusia. Empat hambatan utama diidentifikasi: Kesenjangan Nilai-Skalabilitas, Perangkap Otoritas, Kesenjangan Pengembalian Investasi (ROI), dan Spiral Kapabilitas-Risiko. Untuk mengatasi tantangan ini, studi ini mengusulkan AegisOps AI, platform tata kelola perusahaan yang dirancang untuk membantu organisasi menggunakan Agentic AI dengan aman dan efektif. Platform ini berfokus pada memastikan bahwa sistem AI tersebut mampu, dapat dipercaya, dan dapat dipertahankan, untuk membantu organisasi untuk menutup paradoks adopsi AI Agentik.
Perpustakaan Digital ITB