Meskipun investasi global dalam inisiatif transformasi digital telah mencapai skala
yang belum pernah terjadi sebelumnya, bukti empiris secara konsisten
menunjukkan bahwa lebih dari 70% inisiatif tersebut gagal mencapai tujuan yang
diharapkan. Tingkat kegagalan yang persisten ini tidak dapat dijelaskan secara
memadai hanya melalui keterbatasan teknologi atau kelemahan eksekusi semata.
Kegagalan ini mencerminkan defisiensi yang lebih mendasar dalam cara
transformasi digital dikonseptualisasikan dan diteorikan, khususnya ketiadaan
penjelasan berbasis sumber daya yang koheren mengenai mekanisme transformasi
digital seperti apa yang menghasilkan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Disertasi ini menjawab kesenjangan tersebut dengan mengonseptualisasikan ulang
transformasi digital sebagai fenomena orkestrasi sumber daya digital, yang
dilandasi oleh Teori Berbasis Sumber Daya beserta ekstensinya dalam Teori
Kapabilitas Dinamis dan Teori Orkestrasi Sumber Daya. Dengan menggunakan
desain penelitian campuran sekuensial, penelitian ini menggabungkan analisis
studi kasus kualitatif berganda pada dua perusahaan manufaktur Indonesia yang
diakui sebagai penerima penghargaan National Lighthouse Industry 4.0, yaitu PT
Semen Indonesia (Persero) Tbk dan Kalbe Nutritionals, dengan validasi kuantitatif
melalui Analytic Hierarchy Process yang melibatkan tiga belas praktisi ahli.
Kontribusi orisinal penelitian ini bersifat tiga dimensi. Pertama, penelitian ini
mengembangkan taksonomi tervalidasi dari empat belas sub-kriteria sumber daya
digital yang diorganisasikan dalam empat dimensi, yaitu People, Process,
Technology, dan Financial, yang menetapkan apa yang membentuk basis sumber
daya digital strategis dari transformasi organisasional. Kedua, penelitian ini
menetapkan bobot prioritas sumber daya yang spesifik per tahap kematangan di
tiga tahap transformasi digital, mengungkapkan bahwa dimensi People secara
konsisten mendominasi di seluruh tahap, meningkat dari 39,8% pada Digitization
hingga 52,6% pada Digital Transformation, sekaligus menunjukkan bahwa
Leadership adalah satu-satunya sumber daya yang terus menguat sepanjang
perjalanan transformasi. Ketiga, penelitian ini mengidentifikasi lima aktivitas
orkestrasi sekuensial, yaitu Diagnosing, Building, Optimizing, Integrating, dan
Scaling, yang beroperasi di sepanjang rantai Structuring-Bundling-Leveraging
dan diatur oleh konstruk Multi-Level Dynamic Managerial Capability yang
mencakup level individual, interpersonal, dan organisasional.
Temuan penelitian menegaskan bahwa kegagalan transformasi digital pada
dasarnya merupakan masalah logika orkestrasi, bukan masalah investasi
teknologi. Organisasi gagal bukan karena kurang berinvestasi, melainkan karena
mengaktifkan primary resources sebelum prerequisite foundations terbentuk
secara memadai. Integrated Digital Resource Orchestration Framework yang
dikembangkan dalam penelitian ini memberikan penjelasan yang secara teoritis
berdasar mengenai mengapa tingkat keberhasilan transformasi digital bervariasi
begitu signifikan di antara organisasi dengan investasi teknologi yang sebanding,
sekaligus menyediakan panduan praktis bagi para praktisi dalam meningkatkan
efektivitas inisiatif transformasi mereka.
.
Kata Kunci: Industri 4.0, Kapabilitas Dinamis, Kinerja Perusahaan,Manufaktur,
Orkestrasi Sumber Daya, Sumber Daya Digital, Transformasi Digital, Teori
Berbasis Sumber Daya, Industri 4.0
Perpustakaan Digital ITB