Akurasi dan konsistensi estimasi trajectory merupakan aspek fundamental
dalam sistem navigasi kendaraan otonom. Namun, Visual SLAM berbasis
kamera stereo, seperti ORB-SLAM3, masih menghadapi permasalahan
akumulasi drift akibat ketidakpastian estimasi depth, terutama pada area
bertekstur rendah, objek berjarak jauh, dan kondisi perubahan arah lintasan
yang kompleks. Pendekatan ORB-SLAM3-RGBL berupaya mengurangi
keterbatasan tersebut dengan memanfaatkan depth map dari LiDAR. Akan
tetapi, proyeksi titik LiDAR bersifat sparse dan rentan terhadap kesalahan
asosiasi dengan fitur visual menyebabkan penggunaan depth secara langsung
(direct depth injection) berpotensi menghasilkan residual yang tidak konsisten
dan menurunkan stabilitas estimasi. Permasalahan ini menunjukkan bahwa
penambahan informasi LiDAR tidak selalu cukup untuk meningkatkan
performa Visual SLAM apabila reliabilitas observasi depth tidak dievaluasi
secara eksplisit. Penelitian ini menjawab permasalahan tersebut melalui
metode uncertainty-aware LiDAR-assisted depth fusion, yang memperlakukan
LiDAR sebagai referensi geometrik selektif, bukan sebagai sumber depth
deterministik. Metode yang diusulkan terdiri atas probabilistic depth
consistency modeling, confidence-aware depth weighting, adaptive depthconstrained
pose optimization, dan uncertainty-aware local bundle adjustment.
Hasil pengujian pada KITTI Odometry sequence 00–10 menunjukkan bahwa
konfigurasi Full Proposed (? = 3) mampu menurunkan ATE sebesar
13,03% dan translation error sebesar 12,77% dibandingkan ORB-SLAM3
Stereo, dengan seluruh run pengujian valid dan kecepatan tracking 35 FPS.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa validasi dan pembobotan depth berbasis
ketidakpastian merupakan faktor penting dalam meningkatkan efektivitas
fusi visual–LiDAR, sehingga peningkatan performa tidak hanya bergantung
pada penambahan sensor, tetapi pada kemampuan sistem menyeleksi dan
memanfaatkan observasi geometrik yang reliabel.
Perpustakaan Digital ITB