Abstrak - Billy Samuel Setiawan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Sistem kontrol lampu lalu lintas konvensional berbasis waktu tetap tidak mampu
beradaptasi terhadap fluktuasi volume kendaraan secara dinamis. Pendekatan Multi-
Agent Reinforcement Learning (MARL) menawarkan solusi yang skalabel, tetapi
agen yang hanya mengandalkan observasi lokal tidak memiliki kesadaran spasial terhadap
kondisi persimpangan tetangga sehingga rentan terhadap kegagalan koordinasi.
Penelitian ini mengembangkan dan mengevaluasi arsitektur GAT-Double DQN
yang mengintegrasikan Graph Attention Network (GAT) sebagai encoder koordinasi
spasial antarpersimpangan dengan Double Deep Q-Network sebagai pengambil
keputusan per agen. Representasi state menggabungkan fitur absolut (antrean,
kepadatan, waktu tunggu) dan fitur temporal (perubahan antrean dan kepadatan).
Arsitektur diimplementasikan pada simulator SUMO dan dievaluasi pada dua subjaringan
urban berskala 9 persimpangan, yaitu arteri asimetris 3×3 dan grid simetris
3×3, dengan tiga skenario lalu lintas: arus stabil, arus puncak, dan grid dynamic
dengan konflik silang tinggi. Evaluasi membandingkan GAT-DQN dengan baseline
non-kooperatif Independent DQN (IDQN) serta baseline konvensional non-RL
(PKJI dan delay-based) menggunakan metrik perjalanan end-to-end, yaitu median
waktu tunda perjalanan (time loss), rata-rata antrean puncak per lajur, dan tingkat
penyelesaian perjalanan. Hasil eksperimen menunjukkan adanya pertukaran (tradeoff
) operasional yang bergantung pada topologi jaringan. Pada skenario grid dynamic,
kelemahan pengendali konvensional memicu waktu tunda ekstrem, sementara
IDQN rentan mengunci lajur minor akibat sifat agresifnya mengutamakan lajur padat.
Sebaliknya, GAT-DQN bertindak sebagai stabilisator spasial yang meredam
ledakan antrean puncak dan mencegah kelumpuhan jaringan (spillback), meskipun
harus membagi waktu secara lebih merata sehingga median waktu tunda tampak sedikit
lebih tinggi. Pada koridor arteri linier, GAT-DQN maupun IDQN memberikan
waktu tunda yang sebanding dengan pengendali konvensional, namun terbukti jauh
lebih unggul dalam mempertahankan tingkat penyelesaian perjalanan (throughput).
Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi koordinasi spasial melalui GAT sangat
krusial pada jaringan berkonflik silang tinggi, sedangkan pada topologi linier, kontrol
lokal mandiri sudah memadai untuk melampaui kemampuan baseline statis.
Perpustakaan Digital ITB