Dalam produksi vaksin hepatitis B rekombinan, protein HBsAg diekspresikan secara intraseluler
menggunakan sistem ekspresi Hansenula polymorpha. Lisis sel dalam skala kecil diperlukan sebagai
tahap preparasi sampel untuk pengujian in-process control (IPC), untuk memantau jumlah protein
yang telah diekspresikan selama kultivasi. Pada salah satu perusahaan farmasi, metode yang
digunakan saat ini adalah lisis mekanik dengan glass beads. Diperlukan metode lisis alternatif untuk
memperoleh hasil yang representatif serta mengurangi ketergantungan pada ketersediaan bahan
tersebut. Salah satu metode alternatif yang dapat digunakan adalah ultrasonikasi. Penelitian ini
bertujuan untuk menentukan kondisi optimum lisis sel Hansenula polymorpha dengan ultrasonikasi
menggunakan response surface methodology, yaitu desain Box-Behnken dengan uji pendahuluan
untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh signifikan menggunakan desain ¼ faktorial. Hasil
skrining menunjukkan bahwa faktor durasi, siklus on-off sonikasi, dan OD600 relatif lebih
berpengaruh terhadap respons. Kondisi optimum ditentukan dengan memvariasikan 3 faktor
tersebut dan dianalisis pengaruhnya terhadap respons protein HBsAg, protein total, serta rasio
protein HBsAg terhadap protein total. Kondisi optimum untuk memperoleh jumlah maksimum dari
ketiga respons adalah durasi sonikasi 20 menit, siklus on-off 15:10, dan OD600 sebesar 50. Kondisi
tersebut memberikan kadar protein HBsAg sebanyak 1194,1 ± 104,6 IU/mL, kadar protein total
466,1 ± 54,0 µg/mL, dan rasio kadar protein HBsAg terhadap protein total sebesar 2,57 ± 0,15 pada
kultur Hansenula polymorpha. Lisis sel dengan ultrasonikasi berpotensi untuk digunakan sebagai
alternatif preparasi sampel untuk pengujian IPC.
Perpustakaan Digital ITB