digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Dalam produksi vaksin hepatitis B rekombinan, protein HBsAg diekspresikan secara intraseluler menggunakan sistem ekspresi Hansenula polymorpha. Lisis sel dalam skala kecil diperlukan sebagai tahap preparasi sampel untuk pengujian in-process control (IPC), untuk memantau jumlah protein yang telah diekspresikan selama kultivasi. Pada salah satu perusahaan farmasi, metode yang digunakan saat ini adalah lisis mekanik dengan glass beads. Diperlukan metode lisis alternatif untuk memperoleh hasil yang representatif serta mengurangi ketergantungan pada ketersediaan bahan tersebut. Salah satu metode alternatif yang dapat digunakan adalah ultrasonikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum lisis sel Hansenula polymorpha dengan ultrasonikasi menggunakan response surface methodology, yaitu desain Box-Behnken dengan uji pendahuluan untuk mengidentifikasi faktor yang berpengaruh signifikan menggunakan desain ¼ faktorial. Hasil skrining menunjukkan bahwa faktor durasi, siklus on-off sonikasi, dan OD600 relatif lebih berpengaruh terhadap respons. Kondisi optimum ditentukan dengan memvariasikan 3 faktor tersebut dan dianalisis pengaruhnya terhadap respons protein HBsAg, protein total, serta rasio protein HBsAg terhadap protein total. Kondisi optimum untuk memperoleh jumlah maksimum dari ketiga respons adalah durasi sonikasi 20 menit, siklus on-off 15:10, dan OD600 sebesar 50. Kondisi tersebut memberikan kadar protein HBsAg sebanyak 1194,1 ± 104,6 IU/mL, kadar protein total 466,1 ± 54,0 µg/mL, dan rasio kadar protein HBsAg terhadap protein total sebesar 2,57 ± 0,15 pada kultur Hansenula polymorpha. Lisis sel dengan ultrasonikasi berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif preparasi sampel untuk pengujian IPC.