COVER Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Rayner Tanadi Budiharja
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Alifah Yusriyah Salsabila
» Gedung UPT Perpustakaan
Asam laktat merupakan asam organik yang banyak dimanfaatkan dalam industri
pangan, farmasi, kosmetik, dan sebagai bahan baku polimer biodegradable seperti
PLA. Produksinya umumnya dilakukan melalui fermentasi menggunakan bakteri
asam laktat seperti Lactobacillus acidophilus, yang bersifat homofermentatif dan
mampu menghasilkan asam laktat dalam jumlah tinggi. Namun, proses hilirisasi
masih menjadi tantangan akibat tingginya kelarutan asam laktat dalam air serta
kompleksitas medium fermentasi. Salah satu metode berpotensi yang digunakan
untuk pemulihan asam laktat adalah Aqueous Two-Phase Extraction (ATPE), yang
dilakukan dengan proses pengasaman pada supernatan medium terlebih dahulu,
penambahan garam amonium sulfat, penambahan pelarut, kemudian pemisahan
antara fraksi cair organik dengan fraksi cair yang kaya akan garam. Penelitian ini
bertujuan untuk melakukan proses fermentasi dengan L. acidophilus pada medium
MRS selama 48 jam pada suhu 37 °C, diikuti dengan pemisahan biomassa melalui
sentrifugasi dan mengoptimasi secara bertahap proses ekstraksi asam laktat
menggunakan sistem ATPE berbasis etanol dan amonium sulfat. Variabel yang
dioptimasi pertama meliputi pH medium (2, 3, dan 4), kemudian konsentrasi
amonium sulfat (10–60% w/v), jenis pelarut (etanol dan etil asetat), kemudian
konsentrasi pelarut (50–150% v/v), serta terakhir jumlah siklus pemulihan.
Konsentrasi asam laktat dianalisis menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis.
Hasil penelitian menunjukkan pH berpengaruh signifikan terhadap perolehan asam
laktat dengan perolehan tertinggi sebesar 38,6% pada pH 2. Konsentrasi amonium
sulfat tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap perolehan, dengan kondisi
optimum pada 20% (w/v). Jenis pelarut berpengaruh signifikan, di mana etanol
menghasilkan perolehan 21,4% lebih tinggi dibandingkan etil asetat. Konsentrasi
pelarut tidak menunjukkan pengaruh signifikan dengan kondisi optimum pada 100%
(v/v). Selain itu, peningkatan jumlah siklus pemulihan meningkatkan perolehan asam
laktat hingga siklus ke-2 dengan kenaikan sebesar 35,9%, namun tidak memberikan
peningkatan signifikan pada siklus berikutnya. Dari keseluruhan hasil variabel yang
dioptimasi, kondisi pH 2, amonium sulfat 20% (w/v), penambahan etanol 100% (v/v),
dengan 2 siklus pemulihan, mampu mencapai perolehan asam laktat terbesar sebesar
67,29%.
Perpustakaan Digital ITB